Penutupan PT Sritex di Sukoharjo, Ribuan Pekerja Kehilangan Mata Pencaharian

SUKOHARJO – Kabar mengejutkan datang dari industri tekstil Indonesia. PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) dikabarkan akan menghentikan operasionalnya per 1 Maret 2025. Keputusan ini berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 10.699 karyawan.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer Gerungan, menyatakan bahwa berdasarkan laporan yang diterima, seluruh karyawan diprediksi akan terdampak akibat penutupan perusahaan ini. Kementerian Ketenagakerjaan pun berjanji untuk memastikan hak-hak para pekerja terpenuhi, termasuk pesangon serta manfaat kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
“Kami akan memastikan pekerja yang terkena PHK memperoleh hak-haknya, seperti pesangon, jaminan kehilangan pekerjaan (JKP), jaminan hari tua (JHT), hingga manfaat lain dari BPJS Ketenagakerjaan,” ujar Immanuel.
Selain itu, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah untuk mencari mitra industri yang dapat menyerap tenaga kerja dari Sritex.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Sukoharjo, Sumarno, mengonfirmasi bahwa seluruh karyawan PT Sritex telah diputus hubungan kerja per 26 Februari 2025. Hal ini dikarenakan perusahaan telah diserahkan kepada kurator sebagai bagian dari proses hukum lebih lanjut.
“Perusahaan ini sudah dalam pengelolaan kurator. Oleh karena itu, operasional perusahaan akan dihentikan sepenuhnya mulai 1 Maret 2025,” jelasnya.
Sritex, yang selama ini dikenal sebagai salah satu produsen tekstil terbesar di Indonesia, mengalami kesulitan finansial dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan ini juga telah menghadapi berbagai tantangan, termasuk penurunan permintaan pasar dan tekanan finansial akibat utang yang menumpuk.
Sejumlah karyawan yang terdampak PHK menyampaikan kesedihan mereka atas keputusan ini. Beberapa di antaranya mengenakan pita hitam saat bekerja sebagai simbol solidaritas dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Meski demikian, mereka berharap adanya solusi dari pemerintah agar dapat segera mendapatkan pekerjaan baru.
Penutupan PT Sritex menambah daftar panjang perusahaan besar yang harus menghentikan operasionalnya akibat tekanan ekonomi. Pemerintah pun diharapkan dapat memberikan solusi yang tepat guna mengurangi dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan dari kebijakan ini. []
Nur Quratul Nabila A