Perhotelan Bidik Lonjakan Tamu di H+2 Lebaran
JAKARTA – Pelaku industri perhotelan nasional mengandalkan momentum pergerakan wisatawan pasca-silaturahmi Idulfitri sebagai pendorong utama peningkatan okupansi hotel pada libur Lebaran 2026, di tengah tren penurunan kinerja tahun sebelumnya.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, menyatakan lonjakan tingkat hunian diperkirakan terjadi setelah hari pertama Lebaran, ketika masyarakat mulai melakukan perjalanan wisata lintas daerah.
“Sebenarnya kalau kita bicara libur Lebaran di lingkup industri hotel akomodasi, memang dalam satu tahun itu kita mengenal apa ya, umumnya peningkatan okupansi itu terjadi di libur Lebaran, libur Nataru, dan liburan anak sekolah,” ujar Maulana Yusran saat dikonfirmasi, Senin (16/03/2026).
Ia menjelaskan, selain Lebaran, dua periode lain yang menjadi andalan sektor perhotelan adalah libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta liburan sekolah. Ketiga momentum tersebut selama ini menjadi tulang punggung pergerakan okupansi hotel sepanjang tahun.
PHRI menilai kebijakan pemerintah berupa cuti bersama yang panjang serta penerapan Work From Anywhere (WFA) menjadi faktor yang berpotensi mendorong peningkatan okupansi pada tahun ini. Skema kerja fleksibel dinilai memberi ruang bagi masyarakat untuk berwisata tanpa meninggalkan pekerjaan.
“Paling tidak kita mengejar lebih tinggi dibandingkan 2025. Sebagai catatan di tahun 2025 itu kan sebenarnya kalau kita melihat realita di lapangannya terjadi penurunan dibandingkan 2024,” ungkap dia.
Lebih lanjut, Yusran menekankan bahwa puncak pergerakan wisata biasanya terjadi setelah momen silaturahmi keluarga selesai, terutama pada hari kedua Lebaran. Pada fase ini, masyarakat mulai melakukan perjalanan wisata bersama keluarga ke berbagai destinasi.
“Setelah silaturahmi itu ada pergerakan lintas provinsinya. Mereka berwisata keluarga lah biasanya, mereka pergi berwisata ke sana-sini. Jadi nah itu yang kita antisipasi lonjakan okupansinya nanti di sana gitu. Biasanya umumnya terjadi di hari kedua,” tandasnya, sebagaimana dilansir Kontan, Senin, (16/03/2026).
Dengan mengandalkan pola pergerakan tersebut, pelaku industri berharap libur Lebaran 2026 dapat menjadi momentum pemulihan kinerja sektor perhotelan setelah mengalami tekanan pada tahun sebelumnya. []
Penulis: Kirana Maheswari | Penyunting: Redaksi01
