Perjanjian Baru Perkuat Posisi India dan Uni Eropa

JAKARTA — Kesepakatan dagang antara India dan Uni Eropa yang akhirnya tercapai setelah hampir dua dekade perundingan menandai babak baru dalam peta perdagangan global. Perjanjian berskala besar ini tidak hanya menyasar penghapusan tarif dan perluasan akses pasar, tetapi juga dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi kedua pihak di tengah dinamika geopolitik dan meningkatnya ketegangan perdagangan internasional.

Perjanjian yang dinilai akan mempengaruhi nasib sekitar 2 miliar penduduk ini resmi disepakati pada Selasa (27/01/2026) oleh pimpinan eksekutif Uni Eropa. Traktat tersebut kerap disebut sebagai “mother of all deals”, mengingat cakupannya yang luas dan ambisius, yakni membuka perdagangan bebas untuk hampir seluruh barang antara India dan 27 negara anggota Uni Eropa.

Kesepakatan ini mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari tekstil, obat-obatan, hingga produk manufaktur bernilai tinggi. Selain itu, perjanjian ini juga akan memangkas bea masuk tinggi atas produk tertentu seperti anggur dan kendaraan asal Eropa. Meski demikian, implementasi penuh perjanjian ini diperkirakan baru akan berjalan dalam beberapa bulan ke depan setelah proses teknis dan peninjauan hukum selesai dilakukan.

Uni Eropa menyatakan optimisme bahwa kesepakatan ini akan melipatgandakan ekspor blok tersebut ke India pada 2032. Target itu akan dicapai melalui penghapusan atau penurunan tarif atas 96,6% barang yang diperdagangkan berdasarkan nilai. Langkah ini diproyeksikan menghemat sekitar 4 miliar euro per tahun bagi perusahaan Eropa dari sisi bea masuk.

Sebagai timbal balik, Uni Eropa juga akan memangkas tarif atas 99,5% barang impor dari India secara bertahap selama tujuh tahun. Pemerintah India menyebut tarif akan diturunkan hingga nol untuk berbagai produk unggulan, seperti hasil kelautan, kulit, tekstil, bahan kimia, karet, logam dasar, hingga permata dan perhiasan.

Namun demikian, kedua pihak sepakat untuk mengecualikan sejumlah komoditas sensitif. Produk seperti kedelai, daging sapi, gula, beras, serta produk susu tidak sepenuhnya masuk dalam skema liberalisasi karena pertimbangan perlindungan domestik masing-masing pihak.

Perdana Menteri India Narendra Modi menyebut perjanjian ini sebagai tonggak penting dalam hubungan internasional negaranya.

“Kemarin, sebuah kesepakatan besar ditandatangani antara Uni Eropa dan India. Orang-orang di seluruh dunia menyebutnya sebagai ‘mother of all deals.’ Perjanjian ini akan membawa peluang besar bagi 1,4 miliar penduduk India dan jutaan orang di Eropa,” ungkap Perdana Menteri India Narendra Modi.

Dalam konferensi pers bersama Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa, Modi juga menegaskan bahwa kemitraan ini akan memperkuat stabilitas global.

Sementara itu, Ursula von der Leyen menekankan arti strategis kesepakatan tersebut.

“Eropa dan India sedang mencetak sejarah hari ini. Kami telah menyelesaikan mother of all deals,” kata Ursula von der Leyen lewat akun X nya.

Ia menyebut perjanjian ini sebagai simbol kemitraan dua kekuatan ekonomi besar yang memilih jalur kerja sama di tengah ketidakpastian global.

Selain sektor perdagangan, kesepakatan ini juga membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas di bidang pertahanan, keamanan, mobilitas tenaga kerja terampil, serta isu iklim. Dengan nilai perdagangan yang telah mencapai 136,5 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2024–2025, India dan Uni Eropa menargetkan peningkatan hingga sekitar 200 miliar dolar AS pada 2030.

Penandatanganan resmi perjanjian ini dijadwalkan berlangsung setelah proses peninjauan hukum yang diperkirakan memakan waktu lima hingga enam bulan, sebelum akhirnya diterapkan secara penuh dalam waktu sekitar satu tahun. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *