Pertalite Naik Jadi Rp10.000 di Jakarta Selatan, Beban Warga Bertambah
JAKARTA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di wilayah Jakarta Selatan memicu perhatian publik setelah mengalami lonjakan signifikan menjadi Rp10.000 per liter per 13 April 2026. Kenaikan ini berpotensi menambah beban biaya transportasi masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang masih bergejolak.
Data terbaru dari PT Pertamina (Persero) menunjukkan harga Pertalite di Jakarta Selatan naik dari sebelumnya Rp7.650 per liter. Sementara itu, harga BBM jenis lain seperti Pertamax Turbo dan Dexlite terpantau tidak mengalami perubahan, masing-masing tetap di level Rp13.100 dan Rp14.200 per liter.
Penyesuaian harga tersebut tidak berlaku merata di seluruh wilayah. Di sejumlah kota besar seperti Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar, harga Pertalite masih bertahan di Rp7.650 per liter. Kondisi ini menimbulkan perbedaan harga antarwilayah yang cukup mencolok, khususnya di kawasan DKI Jakarta.
Selain Pertalite, harga Pertamax di Jakarta Selatan tercatat sebesar Rp12.300 per liter, sementara Pertamina Dex berada di level Rp14.500 per liter. Untuk Pertamax Turbo, harga di sebagian besar wilayah tetap Rp13.100 per liter, kecuali di Medan, Makassar, dan Palembang yang berada di Rp13.350 per liter.
Kenaikan harga Pertalite di Jakarta Selatan diduga berkaitan dengan mekanisme penyesuaian harga energi yang mengacu pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran BBM. Namun, hingga kini belum ada penjelasan resmi dari Pertamina terkait alasan spesifik kenaikan tersebut.
Perubahan harga BBM ini menjadi perhatian karena berpotensi memicu efek berantai terhadap perekonomian, mulai dari kenaikan biaya logistik hingga tekanan terhadap daya beli masyarakat. Meski demikian, kebijakan harga BBM disebut dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika harga minyak global dan kebijakan pemerintah, sebagaimana dilansir Inews, Senin (13/04/2026).
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam penggunaan BBM. Pengendara dapat menerapkan pola berkendara efisien serta rutin melakukan perawatan kendaraan guna menekan konsumsi bahan bakar. Selain itu, pemantauan informasi resmi dari Pertamina melalui kanal digital juga dinilai penting untuk mengikuti perkembangan harga terbaru. []
Penulis: Putri Ayuningtyas | Penyunting: Redaksi01
