Pertukaran Tahanan Jadi Titik Terang Negosiasi Ukraina-Rusia

Russia and Ukraine national flags on silk texture

JAKARTA – Kesepakatan pertukaran ratusan tahanan antara Ukraina dan Rusia menjadi titik terang di tengah konflik berkepanjangan yang telah meluluhlantakkan kawasan Eropa Timur. Setelah melalui pembicaraan yang berlangsung di Abu Dhabi, kedua negara yang bertikai itu sepakat menukar lebih dari 300 tahanan, sebuah langkah yang dinilai penting dari sisi kemanusiaan meski belum menyentuh akar persoalan perang.

Kesepakatan tersebut tercapai melalui negosiasi yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Pembicaraan ini menjadi upaya diplomatik terbaru untuk meredakan konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II. Perang Rusia-Ukraina yang meletus sejak Februari 2022 telah menyebabkan ratusan ribu korban jiwa, memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka, serta menghancurkan infrastruktur vital di wilayah timur dan selatan Ukraina.

Utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff, menyampaikan bahwa pertukaran tahanan ini merupakan hasil konkret dari dialog intensif yang dilakukan selama dua hari.
“Hari ini, delegasi dari Amerika Serikat, Ukraina, dan Rusia sepakat untuk menukar 314 tahanan, pertukaran pertama dalam lima bulan,” kata utusan AS Steve Witkoff melalui media sosial pada hari kedua pembicaraan di Abu Dhabi.

Namun demikian, Witkoff menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bukanlah akhir dari proses diplomasi.
“Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” ujar Witkoff.

Kementerian Pertahanan Rusia kemudian mengonfirmasi adanya pertukaran tersebut, dengan menyatakan bahwa masing-masing pihak menukar 157 tahanan. Walaupun jumlah yang disebutkan berbeda dengan pernyataan awal mediator AS, kedua belah pihak sepakat bahwa pertukaran itu menjadi langkah awal yang signifikan setelah berbulan-bulan kebuntuan.

Di sisi lain, situasi kemanusiaan di Ukraina tetap memprihatinkan. Di tengah berlangsungnya pembicaraan di Abu Dhabi, sebagian besar wilayah Ibu Kota Kyiv masih mengalami pemadaman sistem pemanas. Kondisi ini terjadi ketika suhu udara berada di bawah titik beku, menyusul serangan Rusia yang berulang kali melumpuhkan infrastruktur energi dan menyebabkan ratusan blok apartemen kehilangan pasokan listrik dan pemanas.

Pemerintah Ukraina sebelumnya menyampaikan bahwa pembicaraan hari pertama berlangsung dengan nuansa positif.
Pihak Kyiv menggambarkan dialog tersebut sebagai “substantif dan produktif”. Penilaian serupa juga disampaikan oleh negosiator Rusia, Kirill Dmitriev.
“Pasti ada kemajuan, semuanya bergerak maju ke arah yang baik dan positif,” kata Dmitriev.

Meski demikian, belum terlihat adanya terobosan terkait isu paling krusial, yakni sengketa wilayah. Tidak ada sinyal bahwa Moskow bersedia melonggarkan tuntutan utamanya, sementara Kyiv tetap bersikukuh mempertahankan kedaulatan teritorialnya. Ketegangan diplomatik juga tercermin dari pernyataan utusan Rusia yang menuding negara-negara Eropa berupaya “mengganggu kemajuan” negosiasi, meskipun tudingan tersebut tidak dijelaskan lebih lanjut.

Dalam pernyataan resminya pada Rabu (04/02/2026), Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan bahwa sedikitnya 55 ribu tentara Ukraina telah tewas sejak invasi Rusia dimulai. Angka ini lebih rendah dibandingkan sejumlah estimasi independen. Sementara itu, Rusia belum pernah secara terbuka merilis jumlah korban militernya. Penelusuran yang dilakukan BBC bersama media independen Mediazona mencatat lebih dari 160 ribu tentara Rusia diyakini telah tewas sepanjang konflik.

Pertukaran tahanan ini menjadi pengingat bahwa di balik kerasnya konflik geopolitik, terdapat upaya-upaya kemanusiaan yang tetap dijalankan. Namun, jalan menuju perdamaian menyeluruh masih panjang dan dipenuhi tantangan besar.[]

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *