Prancis Tahan Kapten Kapal Tanker Diduga Armada Bayangan Rusia
JAKARTA — Pemerintah Prancis kembali menunjukkan sikap tegas dalam penegakan sanksi internasional terhadap Rusia dengan menahan seorang kapten kapal tanker minyak berkewarganegaraan India yang diduga terlibat dalam jaringan armada bayangan Rusia. Penahanan ini dilakukan setelah kapal tanker yang dipimpinnya terindikasi melanggar aturan pelayaran internasional dan sanksi ekonomi Barat terkait invasi Rusia ke Ukraina.
Kapten berusia 58 tahun tersebut bertanggung jawab atas kapal tanker bernama Grinch yang dicegat dan disita oleh angkatan laut Prancis di kawasan Laut Mediterania pada Kamis (22/01/2026). Saat ini, kapal tersebut berada dalam pengawasan ketat otoritas Prancis dan berlabuh di sebuah pelabuhan di wilayah selatan Prancis, tidak jauh dari kota Marseille.
Dilansir AFP, Senin (26/01/2025), kantor kejaksaan Marseille yang menangani penyelidikan kasus ini menyatakan bahwa hanya kapten kapal yang ditahan. Sementara itu, anggota kru lainnya yang seluruhnya juga berkewarganegaraan India masih tetap berada di atas kapal tanker tersebut selama proses hukum berlangsung.
Kapal Grinch diduga merupakan bagian dari armada bayangan Rusia, yakni jaringan kapal tanker yang sebagian besar berusia tua dan digunakan untuk mengangkut minyak mentah Rusia dengan cara menghindari sanksi dan pembatasan harga yang diberlakukan oleh negara-negara Barat serta kelompok G7. Armada ini disebut kerap beroperasi di luar pengawasan resmi dengan mengubah identitas dan status kapal secara berkala.
Salah satu modus yang sering digunakan adalah praktik flag-hopping, yakni mengganti bendera kapal secara berulang, bahkan dalam beberapa kasus berlayar tanpa bendera yang sah. Tindakan tersebut dinilai melanggar hukum laut internasional dan bertujuan menghindari pelacakan oleh otoritas maritim.
Pada Sabtu lalu, kapal Grinch dikawal menuju Teluk Fos di Prancis selatan oleh angkatan laut Prancis. Kapal tersebut kemudian berlabuh sekitar 500 meter dari kota Martigues. Seorang fotografer AFP melaporkan bahwa pengamanan di sekitar kapal dilakukan secara ketat, dengan keberadaan satu kapal angkatan laut dan dua kapal patroli gendarmerie di lokasi.
Prefektur setempat menetapkan zona larangan laut dan udara di sekitar area sandar kapal guna menjamin keamanan serta kelancaran proses penyelidikan. Langkah ini mencerminkan keseriusan Prancis dalam menangani dugaan pelanggaran sanksi yang melibatkan armada bayangan Rusia.
Menurut data Uni Eropa, sekitar 598 kapal yang diduga menjadi bagian dari armada bayangan Rusia saat ini berada di bawah sanksi. Otoritas menyebut kapal Grinch tercantum dalam daftar sanksi Inggris dengan nama tersebut, sementara dalam daftar sanksi Uni Eropa dan Amerika Serikat kapal yang sama terdaftar dengan nama Carl.
Operasi pencegatan ini bukan yang pertama dilakukan Prancis. Pada akhir September lalu, otoritas Prancis juga menahan kapal bernama Boracay yang terkait dengan Rusia dan mengaku berbendera Benin. Tindakan tersebut sempat menuai kecaman dari Presiden Rusia Vladimir Putin yang menyebutnya sebagai pembajakan. Kapten Boracay berkewarganegaraan China dijadwalkan menjalani proses pengadilan di Prancis pada Februari mendatang.
Penahanan kapten Grinch menegaskan komitmen Prancis dan mitra-mitranya dalam menutup celah pelanggaran sanksi serta memperkuat pengawasan terhadap lalu lintas minyak Rusia di jalur pelayaran internasional. []
Siti Sholehah.
