Produksi Ikan 3,57 Juta Ton, KKP Klaim Pasokan Aman
JAKARTA – Menjelang bulan suci Ramadan hingga perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, pemerintah menaruh perhatian besar pada stabilitas pasokan pangan, termasuk komoditas perikanan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan bahwa ketersediaan ikan secara nasional berada dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat selama periode peningkatan konsumsi tersebut.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan bahwa hasil pemantauan KKP menunjukkan stok ikan di berbagai wilayah sentra konsumsi utama masih terjaga.
“Kementerian Kelautan dan Perikanan memastikan bahwa ketersediaan ikan di seluruh sentra konsumsi utama berada dalam status aman,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam keterangan tertulis, Kamis (05/02/2026).
Pernyataan tersebut menjadi sinyal optimisme pemerintah di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap potensi lonjakan permintaan dan fluktuasi harga bahan pangan selama Ramadan. KKP memproyeksikan produksi ikan nasional pada periode Januari hingga Maret 2026 mencapai 3,57 juta ton. Angka ini bersumber dari dua sektor utama, yakni perikanan budi daya sebesar 2,05 juta ton dan perikanan tangkap sebanyak 1,52 juta ton.
Produksi tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik, sekaligus menjaga stabilitas pasokan di pasar. Trenggono menegaskan bahwa sektor perikanan memiliki peran strategis dalam penyediaan protein hewani bagi masyarakat, khususnya saat Ramadan ketika pola konsumsi cenderung meningkat.
“KKP berkomitmen penuh untuk memastikan kebutuhan protein hewani masyarakat, khususnya dari sektor perikanan, dapat terpenuhi dengan baik dan dengan harga yang terjangkau,” tambahnya.
Untuk memastikan proyeksi tersebut berjalan sesuai rencana, KKP melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi pasokan ikan di delapan kota besar yang menjadi pusat konsumsi nasional. Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, ketersediaan ikan secara nasional masih berada dalam kategori aman, baik dari sisi volume maupun distribusi.
Namun, KKP juga menyiapkan langkah mitigasi guna mengantisipasi potensi gangguan pasokan, seperti cuaca ekstrem, hambatan distribusi, atau lonjakan permintaan yang tidak terduga. Salah satu strategi yang diterapkan adalah optimalisasi stok ikan di gudang beku atau cold storage yang tersebar di berbagai daerah. Selain itu, distribusi hasil perikanan budi daya turut diperkuat untuk menyeimbangkan pasokan antarwilayah.
Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas harga ikan di tingkat konsumen, sekaligus memastikan masyarakat tetap memperoleh produk perikanan yang bermutu selama menjalankan ibadah puasa. Pemerintah juga menaruh perhatian pada kelancaran distribusi logistik agar pasokan ikan dari sentra produksi dapat menjangkau wilayah konsumsi secara merata.
“Kami memastikan distribusi antarwilayah tetap berjalan lancar untuk menjaga keseimbangan pasokan di tingkat konsumen,” terang Trenggono.
Selain aspek ketersediaan, kebijakan ini juga mencerminkan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis sumber daya kelautan. Dengan produksi yang terjaga dan distribusi yang terkendali, sektor perikanan diharapkan tidak hanya mendukung kebutuhan konsumsi masyarakat, tetapi juga memberikan kepastian bagi pelaku usaha perikanan, mulai dari nelayan hingga pembudi daya.
KKP menilai bahwa sinergi antara produksi, penyimpanan, dan distribusi menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas pasokan ikan nasional. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan sektor perikanan tetap menjadi tulang punggung penyediaan protein hewani yang terjangkau dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia. []
Siti Sholehah.
