Rudal dan Drone Rusia Hantam Kyiv, Korban Jiwa Berjatuhan

JAKARTA – Eskalasi konflik Rusia dan Ukraina kembali menelan korban jiwa. Ibu kota Ukraina, Kyiv, bersama wilayah pinggirannya menjadi sasaran serangan besar-besaran militer Rusia yang terjadi pada Jumat dini hari waktu setempat. Rentetan serangan tersebut menyebabkan sedikitnya tiga orang tewas dan belasan lainnya mengalami luka-luka, serta memicu kerusakan signifikan pada kawasan permukiman warga sipil.

Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menyampaikan bahwa serangan tersebut mengakibatkan kebakaran di sejumlah titik dan merusak bangunan apartemen. “Tiga orang tewas dan 13 luka-luka,” kata Klitschko. Ia juga mengungkapkan bahwa seorang petugas medis tewas ketika tengah merespons serangan drone di sebuah gedung perumahan yang kembali diserang untuk kedua kalinya. Hingga kini, belum dipastikan apakah petugas medis tersebut termasuk dalam data korban tewas yang telah diumumkan sebelumnya.

Serangan ini membuat situasi keamanan di Kyiv berada dalam kondisi siaga penuh. Gubernur wilayah Kyiv, Mykola Kalashnyk, mengimbau warga agar tetap berlindung dan tidak meninggalkan tempat perlindungan sampai sirene peringatan serangan udara dinyatakan berhenti. Seruan tersebut mencerminkan tingginya ancaman lanjutan yang masih membayangi wilayah tersebut.

Ancaman serangan tidak hanya terfokus di Kyiv. Angkatan udara Ukraina mengeluarkan peringatan keras bahwa “seluruh Ukraina berada di bawah ancaman rudal,” setelah terdeteksi pergerakan pesawat pembom Rusia di wilayah udara. Peringatan berskala nasional ini menandakan bahwa serangan kali ini bukan sekadar operasi terbatas, melainkan bagian dari tekanan militer yang lebih luas.

Di bagian barat Ukraina, tepatnya di kota Lviv, militer Ukraina melaporkan sebuah rudal balistik menghantam “fasilitas infrastruktur” menjelang tengah malam. Meski serangan tersebut memicu kekhawatiran akan potensi bahaya lanjutan, otoritas militer setempat memastikan bahwa tingkat radiasi di wilayah tersebut masih berada dalam ambang normal.

Serangan terbaru ini terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan internasional. Sehari sebelumnya, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kyiv telah mengeluarkan peringatan kepada warganya mengenai potensi terjadinya “serangan udara yang signifikan” dalam beberapa hari ke depan. Peringatan tersebut kemudian ditegaskan kembali oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam pidato malamnya, yang jarang dilakukan secara terbuka dalam situasi sebelumnya.

Di sisi lain, ketegangan diplomatik juga terus meningkat. Pemerintah Rusia sebelumnya menyebut Ukraina dan negara-negara pendukungnya sebagai “poros perang” dan secara terbuka menolak proposal pascaperang yang dibahas dalam pertemuan puncak di Paris. Rencana tersebut mencakup pembentukan mekanisme pemantauan yang dipimpin Amerika Serikat serta pengerahan pasukan multinasional Eropa setelah pertempuran berakhir.

Namun Moskow memberikan peringatan tegas bahwa setiap pasukan penjaga perdamaian Barat yang dikirim ke Ukraina akan dianggap sebagai target militer. Pernyataan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik berpotensi meluas dan semakin melibatkan kekuatan internasional secara langsung.

Rentetan serangan di Kyiv dan wilayah lainnya kembali menegaskan bahwa konflik Rusia–Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Warga sipil tetap menjadi pihak paling rentan, sementara upaya diplomatik internasional masih menghadapi jalan terjal di tengah ancaman eskalasi militer yang terus berlanjut. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *