Rusia Gempur Fasilitas Energi, Ukraina Hadapi Musim Dingin Tanpa Pemanas
JAKARTA – Eskalasi konflik Rusia dan Ukraina kembali menimbulkan dampak kemanusiaan serius setelah Rusia melancarkan serangan besar-besaran terhadap fasilitas energi Ukraina. Serangan yang terjadi di tengah gelombang suhu ekstrem ini menyebabkan ratusan ribu warga kehilangan akses pemanas, memperparah kondisi hidup masyarakat sipil saat musim dingin mencapai titik terdingin sejak perang pecah pada Februari 2022.
Serangan tersebut berlangsung pada Selasa malam ketika suhu di sejumlah wilayah Ukraina mendekati minus 20 derajat Celsius. Akibat serangan itu, dua remaja dilaporkan tewas di Kota Zaporizhzhia, Ukraina selatan. Selain korban jiwa, sejumlah infrastruktur sipil turut terdampak, termasuk rusaknya sebuah monumen Perang Dunia II peninggalan era Soviet.
Momentum serangan ini menjadi sorotan internasional karena terjadi sehari sebelum Ukraina dan Rusia dijadwalkan menggelar putaran kedua perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat di Abu Dhabi. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menilai serangan tersebut sebagai sinyal buruk bagi upaya diplomasi yang tengah diupayakan.
“Memanfaatkan hari-hari terdingin di musim dingin untuk meneror orang lebih penting bagi Rusia daripada beralih ke diplomasi,” kata Zelensky, dikutip dari AFP, Rabu (04/02/2026). Ia juga menegaskan bahwa Rusia “sekali lagi mengabaikan upaya pihak Amerika” untuk meredakan konflik.
Dari Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut memberikan pernyataan dengan mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin agar segera mengakhiri perang. Trump menyatakan dirinya “ingin” Rusia memperpanjang penghentian sementara serangan, terutama mengingat kondisi cuaca ekstrem yang membahayakan warga sipil.
Nada serupa disampaikan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, yang pada hari serangan berlangsung tengah melakukan kunjungan ke Kyiv. Rutte menilai tindakan militer Rusia tersebut tidak mencerminkan itikad baik menuju perdamaian. “Serangan Rusia seperti tadi malam, tidak menandakan keseriusan tentang perdamaian,” ujarnya.
Saat kunjungan Rutte berlangsung, sirene peringatan udara dilaporkan berbunyi di seluruh wilayah Kyiv. Wartawan AFP di lapangan mendengar ledakan sepanjang malam, sementara warga di ratusan bangunan terbangun dan mendapati sistem pemanas mereka tidak lagi berfungsi.
Menteri Restorasi Ukraina Oleksiy Kuleba menyebutkan dampak serangan terhadap kehidupan warga sangat luas. “Lebih dari 1.100 bangunan tempat tinggal masih tanpa pemanas hingga Selasa malam,” katanya. Di beberapa lokasi, warga terlihat berkumpul di sekitar bangunan rusak, melintasi puing-puing dan lapisan es tebal yang menutupi jalanan.
Kesaksian warga mencerminkan situasi darurat yang dihadapi masyarakat. “Jendela kami pecah dan kami tidak memiliki pemanas,” ujar Anastasia Grytsenko, salah seorang penduduk. “Kami tidak tahu harus berbuat apa,” tambahnya.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi pihaknya telah melancarkan “serangan besar-besaran” yang menargetkan “perusahaan kompleks industri militer Ukraina dan fasilitas energi”. Rusia juga menyatakan sebelumnya telah menyetujui permintaan Amerika Serikat untuk tidak menyerang Kyiv selama tujuh hari, meski Ukraina menilai serangan terus berlanjut di wilayah lain.
Menteri Energi Ukraina Denys Shmygal menjelaskan bahwa berbagai jenis persenjataan digunakan dalam serangan tersebut. “Beberapa jenis rudal balistik dan jelajah, serta drone, digunakan untuk menyerang gedung-gedung tinggi dan pembangkit listrik tenaga termal,” ujarnya. Ia menambahkan, “Ratusan ribu keluarga, termasuk anak-anak, sengaja dibiarkan tanpa pemanas di tengah cuaca dingin yang ekstrem.”
Penyedia energi swasta terbesar di Ukraina menyebut serangan pada Selasa tersebut sebagai yang paling dahsyat sepanjang awal tahun 2026, mempertegas kekhawatiran akan memburuknya krisis kemanusiaan di tengah upaya diplomatik yang belum menunjukkan hasil nyata. []
Siti Sholehah.
