Satu Tewas dalam Aksi Penolakan Wajib Militer Israel

YERUSALEM – Ketegangan sosial akibat perdebatan wajib militer di Israel kembali memakan korban jiwa. Seorang remaja dilaporkan meninggal dunia setelah sebuah bus terlibat insiden tabrakan dengan massa demonstran yang menggelar aksi protes di wilayah Yerusalem. Peristiwa ini menyoroti rapuhnya situasi keamanan dalam negeri Israel di tengah tekanan konflik berkepanjangan dan polemik politik internal.

Insiden tersebut mengakibatkan satu orang tewas dan tiga lainnya mengalami luka-luka. Petugas layanan darurat yang berada di lokasi kejadian menyatakan bahwa bus tersebut menabrak tiga pejalan kaki sebelum akhirnya melaju dan menghantam seorang remaja berusia 18 tahun yang terjebak di bawah kendaraan.

“Paramedis menyatakan dia meninggal di lokasi kejadian,” kata Magen David Adom dalam pernyataannya.

Peristiwa tragis itu terjadi pada Selasa (06/01/2026) ketika ribuan warga Yahudi dari kalangan ultra-Ortodoks turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan terhadap undang-undang yang mewajibkan mereka mengikuti wajib militer. Kebijakan tersebut diberlakukan sebagai respons atas kekurangan personel militer Israel, yang telah terlibat konflik bersenjata di berbagai wilayah selama dua tahun terakhir.

Aksi unjuk rasa menentang kebijakan wajib militer ini bukanlah yang pertama. Dalam beberapa bulan terakhir, demonstrasi serupa kerap digelar dan berulang kali menimbulkan ketegangan antara aparat keamanan dan massa. Pada aksi terbaru ini, situasi berkembang menjadi tidak terkendali.

Menurut keterangan Kepolisian Israel, kericuhan dipicu oleh tindakan sekelompok kecil massa yang bertindak anarkis. Aparat menyebut para perusuh melakukan berbagai aksi pelanggaran hukum, mulai dari memblokir jalan, merusak kendaraan umum, hingga menyerang aparat keamanan dan jurnalis.

Pihak kepolisian menjelaskan bahwa bus yang terlibat insiden sempat terhalang oleh massa yang mengganggu jalur lalu lintas. Dalam situasi tersebut, kendaraan tersebut tidak dapat melanjutkan perjalanan secara normal.

Sopir bus yang terlibat dalam insiden ini telah diamankan oleh pihak berwenang. Identitasnya tidak dipublikasikan ke publik. Dalam pemeriksaan awal, sopir menyampaikan bahwa dirinya berada dalam kondisi terancam sebelum peristiwa nahas tersebut terjadi.

Ia mengaku “diserang oleh para perusuh, setelah itu insiden yang sangat disayangkan tersebut terjadi”.

Meski menimbulkan korban jiwa, aparat keamanan Israel menepis kekhawatiran bahwa insiden tersebut merupakan aksi teror. Penyelidikan lebih lanjut masih dilakukan untuk memastikan kronologi lengkap serta menentukan tanggung jawab hukum atas kejadian tersebut.

Di luar insiden di lapangan, peristiwa ini kembali membuka luka lama dalam dinamika politik Israel. Undang-undang wajib militer bagi kalangan Yahudi ultra-Ortodoks menjadi sumber perpecahan serius di dalam koalisi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Kelompok oposisi serta sebagian mitra koalisi mendorong peningkatan perekrutan militer, seiring kebutuhan pertahanan negara yang meningkat.

Sebaliknya, partai-partai ultra-Ortodoks yang selama ini menjadi sekutu politik Netanyahu menolak keras kewajiban tersebut, terutama bagi mahasiswa agama. Sejak berdirinya Israel pada 1948, kelompok ini mendapatkan pengecualian tidak resmi dari wajib militer, sebuah kebijakan yang kini menuai kritik luas dari masyarakat.

Di tengah mobilisasi besar-besaran tentara dan pasukan cadangan, perdebatan ini kian sensitif. Meskipun kelompok ultra-Ortodoks hanya mencakup sekitar 14 persen dari populasi Yahudi Israel, posisi politik mereka dinilai krusial bagi keberlangsungan pemerintahan saat ini. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *