Sekolah Libur, MI Negeri 3 Lebak Jadi Sasaran Pencurian

JAKARTA — Keamanan fasilitas pendidikan kembali menjadi sorotan setelah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Negeri 3 Lebak menjadi korban aksi pencurian saat sekolah dalam kondisi sepi akibat masa libur. Sejumlah aset sekolah yang selama ini digunakan untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar dilaporkan hilang, menambah daftar panjang kasus kriminal yang menyasar institusi pendidikan.

Peristiwa pencurian tersebut diduga terjadi pada malam hari ketika tidak ada aktivitas di lingkungan sekolah. Kondisi sekolah yang kosong dimanfaatkan oleh pelaku untuk masuk dengan cara merusak fasilitas bangunan. Salah seorang guru MI Negeri 3 Lebak, Pepen Supendi, mengungkapkan bahwa pelaku membobol pintu ruang guru sebelum menggasak sejumlah barang.

“Pintu dijebol, lalu pelaku mengambil barang-barang milik sekolah,” katanya, Senin (05/01/2025).

Barang-barang yang hilang bukan hanya perlengkapan elektronik bernilai tinggi, tetapi juga peralatan penunjang operasional sekolah yang sehari-hari digunakan oleh guru dan siswa. Pepen menjelaskan bahwa pelaku mengambil dua unit proyektor yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran, kipas angin, hingga pompa air.

“Pepen mengatakan dua proyektor, kipas angin, hingga pompa air diambil oleh pelaku. Tak hanya itu, pelaku juga membawa kopi dan gula.”

Tidak berhenti di situ, pelaku bahkan turut menggasak perlengkapan ibadah yang ada di lingkungan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku diduga mengambil berbagai barang tanpa pandang bulu, selama dianggap mudah dibawa.

“Proyektor, bahkan kopi-gula, hingga perlengkapan ibadah juga ikut digasak pelaku,” ucapnya.

Meski kehilangan sejumlah fasilitas penting, pihak sekolah memastikan bahwa aktivitas belajar-mengajar tetap berjalan normal. Sekolah melakukan penyesuaian agar proses pendidikan tidak terganggu, terutama demi menjaga kenyamanan dan kelangsungan pembelajaran para siswa.

“Pepen memastikan peristiwa ini tidak mengganggu proses belajar-mengajar. Ia menghitung sekolah mengalami kerugian sebesar Rp 15 juta.”

“Total kerugian ditaksir mencapai sekitar Rp15 juta,” katanya.

Namun, kejadian ini menambah kekhawatiran pihak sekolah karena pencurian serupa disebut bukan kali pertama terjadi. Berulangnya insiden ini menunjukkan masih lemahnya sistem pengamanan sekolah, terutama saat masa libur panjang ketika pengawasan berkurang.

“Menurutnya, kejadian ini bukan pertama kali terjadi. Atas hal itu, pihak sekolah bakal melapor ke polisi.”

Sebagai langkah lanjutan, pihak sekolah berencana membuat laporan resmi kepada aparat kepolisian dengan harapan pelaku dapat segera ditangkap dan kejadian serupa tidak kembali terulang.

“Kami akan membuat laporan resmi, supaya kejadian serupa tidak terulang kembali,” katanya.

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi pemangku kepentingan di sektor pendidikan untuk memperkuat pengamanan fasilitas sekolah. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga aset publik yang memiliki peran strategis dalam mencerdaskan generasi muda. Tanpa sistem keamanan yang memadai, sarana pendidikan berisiko terus menjadi sasaran empuk pelaku kejahatan, khususnya saat aktivitas sekolah terhenti sementara. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *