Serangan Gabungan Inggris-Prancis Tekan Aktivitas ISIS di Suriah

A handout photograph taken on January 3, 2025 and released by the British Ministry of Defence shows a Royal Air Force Typhoon aircraft on the tarmac returning at RAF Akrotiri on the island of Cyprus after a joint patrol with French aircraft over Syria. Britain and France carried out joint strikes on the Islamic State group on January 3 in Syria to prevent the Islamist extremists resurging. (Photo by Sgt Lee Goddard / Ministry of Defence (United Kingdom) / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT " AFP PHOTO / CROWN COPYRIGHT 2025 / SGT LEE GODDARD " - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS - NO ARCHIVE - TO BE USED WITHIN 2 DAYS (48 HOURS) FROM JAN 4, 2025, EXCEPT FOR MAGAZINES WHICH CAN PRINT THE PICTURE WHEN FIRST REPORTING ON THE EVENT /

DAMASKUS — Kerja sama militer antara Inggris dan Prancis kembali ditunjukkan melalui operasi gabungan di wilayah Suriah. Kedua negara tersebut mengonfirmasi telah melancarkan serangan udara terkoordinasi terhadap target-target yang diduga menjadi basis kelompok radikal Islamic State (ISIS). Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya internasional untuk memastikan kelompok ekstremis tersebut tidak kembali bangkit dan mengancam stabilitas kawasan.

Serangan udara itu dilakukan pada akhir pekan lalu dan difokuskan pada fasilitas bawah tanah di wilayah Suriah tengah. Menurut pernyataan resmi militer Prancis, operasi tersebut merupakan bagian dari Operation Inherent Resolve, sebuah operasi multinasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) dan melibatkan sejumlah negara sekutu dalam memerangi ISIS di Irak, Suriah, dan Libya.

Kementerian Pertahanan Inggris juga menyampaikan bahwa operasi tersebut dilakukan bersama pasukan Prancis pada Sabtu (03/01/2026) malam. Sasaran utama adalah infrastruktur yang diyakini digunakan ISIS sebagai tempat penyimpanan senjata dan bahan peledak. Otoritas Inggris menegaskan bahwa lokasi yang diserang berada jauh dari permukiman warga sipil.

“Pesawat-pesawat Angkatan Udara Kerajaan (Inggris) telah menyelesaikan serangan yang sukses terhadap Daesh (nama Arab untuk ISIS-red) dalam operasi gabungan dengan Prancis,” kata Kementerian Pertahanan Inggris dalam pernyataannya.

Lebih lanjut dijelaskan, “Fasilitas ini telah diduduki oleh Daesh, kemungkinan besar untuk menyimpan senjata dan peledak. Area di sekitar fasilitas tersebut tidak dihuni oleh warga sipil.”

Pemerintah Inggris menambahkan bahwa hasil penilaian awal menunjukkan tidak adanya indikasi risiko terhadap warga sipil akibat serangan tersebut, termasuk di wilayah utara Palmyra yang dikenal sebagai kawasan bersejarah. Pernyataan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa aspek perlindungan warga sipil tetap menjadi pertimbangan utama dalam operasi militer tersebut.

Sementara itu, Angkatan Bersenjata Prancis melalui akun resmi mereka di media sosial X menyebut bahwa serangan tersebut merupakan bentuk komitmen nyata negara-negara sekutu NATO dalam memerangi terorisme global. Dalam pernyataannya disebutkan bahwa sebagai bagian dari Operation Inherent Resolve, kedua negara “melancarkan serangan-serangan terhadap posisi kelompok teroris Islamic State”.

“Mencegah kebangkitan kembali Daesh merupakan isu utama bagi keamanan kawasan,” sebut Angkatan Bersenjata Prancis dalam pernyataannya.

Meski ISIS secara teritorial telah dikalahkan di Suriah pada 2019, kelompok tersebut masih mempertahankan jaringan dan aktivitas terbatas, khususnya di wilayah gurun yang sulit dijangkau. Kondisi ini membuat komunitas internasional tetap waspada terhadap potensi konsolidasi ulang kelompok tersebut.

Upaya pencegahan ini juga berlangsung di tengah dinamika politik Suriah pasca-kejatuhan Presiden Bashar al-Assad. Presiden Suriah saat ini, Ahmed al-Sharaa, berusaha memperkuat kontrol keamanan nasional di tengah sorotan internasional, mengingat latar belakangnya sebagai mantan jihadis.

Palmyra sendiri memiliki nilai strategis dan simbolis. Selain pernah menjadi basis ISIS, wilayah ini juga merupakan rumah bagi situs warisan dunia UNESCO. Ketegangan di kawasan tersebut meningkat setelah serangan ISIS terhadap personel Amerika Serikat bulan lalu yang menewaskan dua tentara AS dan seorang warga sipil AS. Serangan balasan pun dilakukan Washington dengan menggempur puluhan target ISIS di Suriah.

Operasi gabungan Inggris dan Prancis ini menegaskan bahwa meskipun ISIS telah kehilangan kekuatan teritorialnya, ancaman yang ditimbulkan kelompok tersebut masih menjadi perhatian serius dunia internasional.[]

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *