Serangan Militer di Yaman Picu Tiga WNI Terjebak di Pulau Socotra

JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI tengah mengupayakan pemulangan tiga warga negara Indonesia (WNI) yang tertahan di Pulau Socotra, Yaman, akibat penutupan wilayah udara di negara tersebut. Penutupan dilakukan menyusul serangan militer koalisi pimpinan Arab Saudi terhadap Pelabuhan Mukalla pada akhir Desember lalu, yang berdampak pada akses transportasi sipil di kawasan tersebut.

Pelaksana Tugas Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, menjelaskan bahwa ketiga WNI itu diketahui berada dalam kondisi stranded sejak awal Januari. Informasi tersebut diperoleh melalui koordinasi Satgas Perlindungan WNI di Yaman dengan perwakilan Indonesia di kawasan Timur Tengah.

“KBRI Muscat telah menerima informasi dari Satgas Perlindungan WNI di Yaman bahwa ada tiga orang WNI yang mengalami kondisi stranded di Socotra, Yaman, pada 3 Januari lalu. Nah, mereka terjebak di Socotra akibat wilayah udara di Yaman ditutup oleh pemerintah Saudi pada saat serangan militer ke Pelabuhan Mukalla, Yaman, pada 30 Desember lalu,” ujar Heni Hamidah di gedung Kemlu, Jakarta Pusat, Kamis (08/01/2026).

Heni menuturkan, ketiga WNI tersebut masuk ke Pulau Socotra menggunakan jasa operator perjalanan wisata yang berbasis di Uni Emirat Arab. Pulau Socotra sendiri kerap dikenal luas karena keunikan geografisnya, meskipun belakangan juga disebut-sebut dalam berbagai narasi populer yang tidak selalu berdasar. Situasi keamanan yang tidak menentu membuat keberadaan WNI di wilayah tersebut menjadi perhatian serius pemerintah.

“Kasus ketiga WNI ini tengah ditangani oleh beberapa perwakilan kita di kawasan antara lain KBRI Muscat, KBRI Riyadh, KBRI Abu Dhabi,” kata Heni.

Menurut Kemlu, kondisi fisik dan keamanan ketiga WNI sejauh ini terpantau stabil. Komunikasi intensif terus dilakukan guna memastikan keselamatan mereka sembari menunggu peluang penerbangan keluar dari Socotra.

“Berdasarkan pemantauan terakhir, bahkan tadi pagi kami masih berkomunikasi, seluruh WNI berada dalam keadaan baik, sehat, dan aman. Nah, kemudian mulai kemarin tanggal 7 Januari penerbangan sudah mulai dibuka dan pada penerbangan pertama yaitu maskapai Yemenia Airways, ketiga WNI tersebut belum ikut terangkut meskipun sebetulnya namanya sudah dimasukkan oleh pihak travel dan telah diupayakan oleh perwakilan RI. Nah rencananya pada hari ini nanti jam 1 siang dan juga besok ada penerbangan ke Jeddah, dan perwakilan kita di Muscat maupun Abu Dhabi tengah mendorong agar ketiga WNI tersebut bisa ikut,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl, memastikan bahwa hingga kini tidak ada laporan WNI yang menjadi korban langsung dalam serangan militer koalisi Arab Saudi terhadap kelompok separatis di Yaman. Meski demikian, pemerintah tetap mengingatkan WNI agar meningkatkan kewaspadaan dan menghindari daerah konflik.

“Tapi yang jelas kita terus menghimbau kepada para WNI untuk menghindari wilayah-wilayah yang terjadi konflik meskipun sejauh ini alhamdulillah tidak dilaporkan adanya korban dari WNI,” kata Nabyl.

Ia menambahkan, Indonesia berharap konflik di Yaman dapat diselesaikan melalui jalur damai dan dialog. Pemerintah Indonesia juga menyambut positif inisiatif diplomatik yang ditawarkan guna meredakan ketegangan di kawasan tersebut.

“Kita juga mengharapkan agar situasi di sana bisa diselesaikan dengan baik, dengan kondusif dan tidak melalui cara-cara konflik. Dan oleh karena itu kita menyambut baik mengenai upaya dari Arab Saudi yang menawarkan untuk melakukan dialog komprehensif di Riyadh,” ujarnya. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *