Skema BUMN Tekstil Belum Jelas, Pelaku Industri Pilih Menunggu
JAKARTA – Ketidakjelasan skema pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tekstil baru mulai memicu sikap hati-hati dari pelaku industri dan pengelola investasi, meski pemerintah telah menyiapkan pendanaan besar untuk proyek tersebut.
Rencana pembentukan BUMN tekstil dengan dukungan dana sekitar 6 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp101 triliun masih menyisakan tanda tanya, terutama terkait struktur bisnis, mitra strategis, hingga pola kolaborasi dengan sektor swasta.
Managing Director Danantara Rohan Hafas menegaskan belum dapat mengungkapkan pihak-pihak yang berpotensi terlibat, termasuk kemungkinan menggandeng emiten tekstil dalam negeri.
“Terkait siapa pun, apalagi dia perusahaan terbuka, saya tidak bisa memberikan komentar karena ada aturan bursa,” ujarnya, sebagaimana dilansir Bloomberg Technoz, Kamis, (09/04/2026).
Sikap serupa juga ditunjukkan pelaku industri. Wakil Direktur Utama (Wadirut) PT Pan Brothers Tbk (PBRX) Anne Patricia Sutanto menyatakan belum menerima informasi resmi terkait keterlibatan perusahaannya dalam rencana tersebut.
“Kalau BUMN tekstil, mungkin lebih tepat ditanyakan ke Kementerian BUMN. Kalaupun ada [kerjasama], biarkan pemerintah yang menyampaikan,” ujarnya.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa hingga saat ini belum terdapat kepastian mengenai pola kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta dalam proyek strategis tersebut, meskipun industri tekstil nasional tengah menghadapi tekanan berat.
Pemerintah melalui Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya mengungkapkan rencana pembentukan entitas BUMN baru tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat industri padat karya, khususnya sektor tekstil dan produk tekstil (textile and textile products).
Langkah ini juga merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan daya saing industri nasional di tengah tantangan global, seperti perubahan tarif perdagangan dan fluktuasi permintaan ekspor.
Selain itu, pemerintah tengah menyiapkan peta jalan (roadmap) jangka panjang guna memperdalam rantai nilai industri tekstil serta memperluas akses pasar ekspor dalam beberapa tahun ke depan.
Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu kejelasan lebih lanjut terkait model bisnis, skema pendanaan, serta kemungkinan keterlibatan perusahaan tekstil yang telah terdaftar di bursa, sebelum proyek tersebut dapat direalisasikan secara konkret. []
Penulis: Muhammad Fikri | Penyunting: Redaksi01
