Strategi BI Hadapi Rupiah Berfluktuasi: Suku Bunga Tetap

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di tengah tekanan volatilitas nilai tukar global sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi tanpa menghambat pertumbuhan nasional.

Keputusan tersebut disampaikan dalam Central Banking Forum 2026 yang digelar di Jakarta pada Kamis (09/04/2026), yang mempertemukan regulator, akademisi, dan pelaku pasar untuk membahas strategi ketahanan ekonomi menghadapi fluktuasi mata uang internasional.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan kebijakan moneter tetap diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. โ€œKita harus menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan dukungan terhadap aktivitas ekonomi,โ€ ujar Perry dalam sesi tanya jawab, sebagaimana dilansir Media Kampung, Kamis (09/04/2026).

BI menilai tekanan eksternal seperti kebijakan moneter Amerika Serikat, ketegangan geopolitik, serta penyesuaian fiskal di kawasan Asia belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan suku bunga. Oleh karena itu, suku bunga dipertahankan guna menahan arus keluar modal sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Data menunjukkan nilai tukar rupiah dalam tiga bulan terakhir bergerak fluktuatif di kisaran Rp14.800 hingga Rp15.500 per dolar Amerika Serikat. Kondisi ini mencerminkan dampak dinamika global terhadap pasar keuangan domestik.

Sebagai langkah pendukung, BI juga meningkatkan likuiditas melalui operasi pasar terbuka untuk meredam tekanan nilai tukar serta menekan biaya pinjaman, khususnya bagi sektor usaha yang bergantung pada impor bahan baku.

Kebijakan tersebut mendapat respons positif dari kalangan industri. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Asosiasi Pengusaha Indonesia/APINDO) menilai stabilitas suku bunga dapat memperkuat kepercayaan investor domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Selain kebijakan moneter, forum juga menyoroti pentingnya penguatan sektor riil melalui diversifikasi ekspor nonmigas. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan ekspor barang elektronik tumbuh 8,5 persen pada kuartal I 2026, yang membantu menekan defisit transaksi berjalan akibat peningkatan impor energi.

BI menekankan sinergi kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi. Pemerintah menargetkan defisit anggaran 2026 berada di level 2,9 persen dari produk domestik bruto (PDB), sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan fiskal.

Sejumlah ekonom menilai keberlanjutan kebijakan ini bergantung pada stabilitas inflasi inti yang saat ini berada di kisaran 2,7 persen. Jika tekanan inflasi tetap terkendali, suku bunga diperkirakan akan bertahan hingga akhir tahun.

Meski demikian, risiko eksternal seperti potensi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi.

BI menyatakan akan terus memantau dinamika pasar valuta asing dan siap menyesuaikan kebijakan jika diperlukan. Forum tersebut juga menegaskan pentingnya koordinasi kebijakan moneter, fiskal, dan struktural guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Dengan langkah kebijakan yang terukur, stabilitas ekonomi diharapkan tetap terjaga dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5 persen pada 2026. []

Penulis: Alex Prayogo | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *