Tarik Ulur Macron–Trump di Tengah Krisis Greenland

PARIS – Hubungan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan tajam di tengah memanasnya krisis Greenland. Di antara para pemimpin dunia, Macron dikenal sebagai salah satu kepala negara Eropa yang paling sering berhadapan langsung dengan Trump, baik melalui diplomasi terbuka maupun sindiran publik yang sarat makna politik.

Ketegangan terbaru bermula dari sebuah pesan pribadi Macron kepada Trump yang awalnya dimaksudkan bersifat rahasia. Dalam pesan tersebut, Macron menulis, “Sahabatku, kita sepenuhnya sejalan soal Suriah. Kita sama-sama melakukan banyak hal besar terkait Iran. Saya tidak memahami apa yang sedang Anda lakukan soal Greenland.” Namun, alih-alih menjaga kerahasiaan, Trump justru memublikasikan pesan itu di jejaring sosial Truth Social pada Selasa (20/01/2026) malam.

Langkah tersebut memicu kontroversi baru. Di hadapan wartawan, Trump bahkan melontarkan candaan bernada merendahkan dengan mengatakan Macron “akan segera meninggalkan jabatannya.” Dalam berbagai kesempatan publik, Trump juga berulang kali menirukan aksen Macron, mempertegas kesan bahwa hubungan keduanya semakin renggang.

Upaya Macron untuk menjaga jalur dialog dinilai kian sulit setelah stasiun televisi publik France 2 menayangkan film dokumenter yang menampilkan rekaman percakapan telepon pribadi Macron saat kunjungannya ke Kyiv pada Mei 2025. Rekaman itu diduga direkam tanpa sepengetahuan Trump, sehingga menambah lapisan ketegangan personal di antara kedua pemimpin.

Meski demikian, Macron tidak tinggal diam. Dalam pembukaan World Economic Forum di Davos, Selasa (20/01/2026), ia membalas dengan sindiran satir. “Ini adalah masa damai, stabil, dan penuh kepastian,” ujarnya, yang disambut tawa hadirin. Namun nada pidatonya segera berubah menjadi serius ketika ia menegaskan bahwa dunia tengah memasuki fase tanpa aturan yang jelas. Macron menolak apa yang ia sebut sebagai “pendekatan kolonial baru” dan menyebut langkah Trump terkait Greenland sebagai simbol menguatnya politik kekuasaan global.

Di luar jalur retorika, Prancis juga mengirim sinyal militer kepada sekutu. Atas undangan Denmark, Paris mengirim sekitar 15 personel pasukan infanteri gunung ke Nuuk, ibu kota Greenland, serta melakukan manuver pengisian bahan bakar pesawat di udara di kawasan Arktik. Prancis juga melanjutkan rencana pembukaan konsulat jenderal di Nuuk, yang dipandang sebagai respons langsung terhadap pernyataan agresif Trump.

Dalam pidato Tahun Baru kepada angkatan bersenjata di pangkalan udara Istres, Macron menegaskan, “Untuk tetap bebas, seseorang harus ditakuti, dan untuk ditakuti, seseorang harus kuat.” Ia juga mengumumkan rencana penempatan tambahan pasukan darat, laut, dan udara ke Greenland, meski tanpa rincian teknis.

Namun, sikap tegas Macron di panggung internasional berbanding terbalik dengan posisinya di dalam negeri. Pemerintahannya masih menghadapi kesulitan meloloskan anggaran 2026, sementara di tingkat Eropa ia harus berhadapan dengan perbedaan sikap, terutama dari Jerman yang lebih memilih pendekatan deeskalasi.

Pakar hubungan internasional Jacob Ross menilai Eropa masih terjebak dalam pola reaktif. “Emmanuel Macron selalu bereaksi terhadap Trump,” ujarnya. Menurut Ross, hingga kini Eropa belum sepenuhnya berhasil menentukan agenda strategisnya sendiri, dan masih sibuk merespons setiap langkah provokatif dari Washington.

Krisis Greenland pun menjadi ujian besar, bukan hanya bagi hubungan Macron dan Trump, tetapi juga bagi kemampuan Eropa mempertahankan kedaulatan politik dan strateginya di tengah tekanan kekuatan global. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *