Tekan Biaya, Heineken PHK Hampir 7% Karyawan

AMSTERDAM – Produsen bir multinasional asal Belanda, Heineken, mengumumkan rencana pengurangan tenaga kerja secara besar-besaran dengan memangkas hingga 6.000 karyawan di berbagai negara. Jumlah tersebut setara dengan hampir 7 persen dari total sekitar 87.000 pekerja global perusahaan yang saat ini menyandang status sebagai produsen bir terbesar kedua di dunia.

Langkah efisiensi ini diambil di tengah tekanan permintaan pasar yang melemah dalam beberapa waktu terakhir. Pada Rabu (11/02/2026), manajemen Heineken juga menetapkan target pertumbuhan laba untuk 2026 yang lebih rendah dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Kondisi tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi industri minuman beralkohol secara global, termasuk perubahan pola konsumsi dan daya beli masyarakat yang tertekan.

Manajemen menyebut kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) ini sebagai bagian dari strategi jangka menengah untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat fondasi operasional perusahaan. Program pengurangan karyawan tersebut akan dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu dua tahun.

“Kami melakukan ini untuk memperkuat operasional kami agar mampu berinvestasi pada pertumbuhan,” ujar Direktur Keuangan Heineken, Harold van den Broek dikutip dari Reuters, Kamis (12/02/2026).

Sebagian besar PHK disebut akan difokuskan di kawasan Eropa serta pasar non-prioritas yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan relatif rendah. Selain itu, pengurangan tenaga kerja juga merupakan kelanjutan dari inisiatif efisiensi yang telah diumumkan sebelumnya, mencakup restrukturisasi jaringan pasokan, kantor pusat, hingga unit bisnis regional.

Di sisi lain, perusahaan tengah menghadapi dinamika kepemimpinan. Heineken saat ini masih dalam proses pencarian chief executive officer (CEO) baru setelah Dolf van den Brink secara mengejutkan mengundurkan diri pada Januari lalu. Pergantian pucuk pimpinan ini terjadi di tengah kebutuhan perusahaan untuk merumuskan strategi baru guna menjaga daya saing.

Meski mengumumkan langkah penghematan besar, respons pasar terhadap kebijakan tersebut terbilang positif. Saham Heineken tercatat naik 3,5 persen pada pukul 11.47 GMT. Secara keseluruhan, saham perusahaan telah menguat sekitar 7 persen sejak akhir 2025, menandakan optimisme investor terhadap arah restrukturisasi yang ditempuh manajemen.

Industri bir global memang tengah mengalami perlambatan. Penjualan di berbagai kawasan dilaporkan menurun akibat tekanan ekonomi terhadap konsumen serta faktor cuaca buruk yang memengaruhi tingkat konsumsi. Kondisi ini tidak hanya dialami Heineken, tetapi juga para pesaingnya.

Produsen bir lain seperti Carlsberg juga telah menyampaikan rencana PHK. Sejumlah perusahaan minuman beralkohol bahkan memilih memangkas biaya operasional, menjual aset, hingga memperlambat produksi setelah mencatatkan kinerja penjualan yang lesu selama beberapa tahun terakhir.

Selain memproduksi merek Heineken, perusahaan ini juga membawahi berbagai merek populer seperti Tiger dan Amstel. Manajemen menegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dengan struktur organisasi yang lebih ramping, sekaligus menjawab tuntutan investor yang menilai perusahaan perlu meningkatkan efisiensi agar tidak tertinggal dari kompetitor. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *