Tekanan Harga Gabah Picu Alarm Kenaikan Beras di Pasar
JAKARTA – Pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gejolak harga beras setelah sejumlah indikator awal menunjukkan adanya tekanan pada komoditas pangan, dipicu kenaikan harga gabah, biaya produksi, dan distribusi yang terus bergerak naik dalam beberapa waktu terakhir.
Pantauan Sistem Pemantauan Pangan dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan pada Kamis (12/03/2026) menunjukkan dari 16 komoditas pangan yang diamati di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, tujuh komoditas mengalami kenaikan harga, sementara dua lainnya mengalami penurunan. Kondisi ini menjadi sinyal awal potensi fluktuasi harga beras pada 10 April 2026.
Kenaikan harga beras tidak berdiri sendiri. Salah satu faktor utama adalah meningkatnya harga gabah di tingkat petani yang dipengaruhi kondisi cuaca ekstrem serta kenaikan biaya produksi seperti pupuk, bibit, dan tenaga kerja. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar turut mendorong biaya distribusi dari daerah produsen ke wilayah konsumsi.
Di sisi lain, dinamika pasar global juga memberi tekanan. Penurunan harga komoditas ekspor pertanian di sejumlah negara dapat memengaruhi kebijakan impor Indonesia. Persaingan harga beras dengan negara lain seperti Vietnam berpotensi menekan harga domestik atau memicu penyesuaian kebijakan perdagangan, sebagaimana diwartakan Bernama, Kamis (10/04/2026).
Data SP2KP menunjukkan beberapa komoditas lain juga mengalami kenaikan, seperti cabai merah besar yang naik Rp1.180 menjadi Rp54.097 per kilogram. Sementara itu, daging ayam ras justru turun Rp83 menjadi Rp42.250 per kilogram. Pergerakan ini menegaskan bahwa fluktuasi harga pangan terjadi secara tidak merata.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah melalui Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) memperkuat intervensi pasar. Upaya yang dilakukan meliputi penyerapan gabah petani saat panen raya serta penyaluran beras ke pasar untuk menjaga stabilitas harga.
Selain itu, operasi pasar juga menjadi instrumen utama untuk menekan lonjakan harga. Dalam skema ini, beras dijual di bawah harga pasar guna menjaga keterjangkauan bagi masyarakat.
Namun, tantangan tetap muncul. Penyerapan gabah oleh Bulog kerap bersaing dengan harga pasar yang lebih tinggi, sehingga petani cenderung memilih menjual ke pihak swasta.
Dalam jangka panjang, pemerintah menyiapkan strategi penguatan ketahanan pangan melalui peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan varietas unggul, serta perbaikan infrastruktur irigasi dan distribusi. Penguatan cadangan pangan nasional juga menjadi fokus untuk menghadapi potensi krisis akibat faktor global maupun bencana alam.
Stabilitas harga beras ke depan sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, petani, dan pelaku usaha. Dengan kebijakan yang adaptif dan dukungan semua pihak, diharapkan gejolak harga dapat ditekan dan daya beli masyarakat tetap terjaga. []
Penulis: Maman Suparman | Penyunting: Redaksi01
