Telur Ayam dan Daging Ayam Paling Dicari Saat Idul Fitri

JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memetakan potensi lonjakan kebutuhan bahan pokok menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Sejumlah komoditas diproyeksikan mengalami peningkatan permintaan yang cukup signifikan, dengan telur ayam menjadi salah satu yang tertinggi, yakni diperkirakan naik hingga 17,20 persen dibandingkan hari normal saat Idul Fitri.

Proyeksi tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Uus Kuswanto dalam diskusi Balkoters Talk bertema “Persiapan BUMD Pangan Jelang Ramadan dan Hari Raya Idulfitri” di Graha Ali Sadikin, Balai Kota Jakarta, Rabu (11/02/2026). Menurutnya, rangkaian hari besar keagamaan dan perayaan yang berlangsung berdekatan menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Ia menjelaskan, perayaan Tahun Baru Imlek yang beriringan dengan Ramadan dan Idul Fitri berpotensi mendorong peningkatan konsumsi masyarakat. Sebagai ibu kota sekaligus pusat aktivitas ekonomi dan tujuan mobilitas warga dari berbagai daerah, Jakarta harus memastikan stok pangan dalam kondisi aman dan distribusi berjalan lancar.

“Pemprov DKI Jakarta memiliki tanggung jawab menjaga ketersediaan stok pangan dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, terutama menjelang Imlek, Ramadan, dan Idul Fitri. Stabilitas pangan dan ekonomi menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Berdasarkan perhitungan Pemprov DKI, selain telur ayam yang diprediksi melonjak 17,20 persen saat Idul Fitri, kebutuhan daging ayam diperkirakan meningkat 10,77 persen. Komoditas bawang merah naik 10,67 persen, minyak goreng 9,67 persen, serta cabai rawit 9,18 persen.

Sementara itu, menjelang Ramadan tren kenaikan kebutuhan sudah mulai terlihat meskipun dalam skala lebih moderat. Telur ayam diperkirakan naik 7,5 persen, daging sapi dan kerbau 3,57 persen, bawang putih 3,57 persen, cabai rawit 3,06 persen, serta bawang merah 2,89 persen.

Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, Pemprov DKI memperkuat koordinasi dengan badan usaha milik daerah (BUMD) sektor pangan. Langkah ini mencakup pengamanan pasokan, distribusi, serta pengawasan harga agar tetap stabil di pasaran.

“Tidak ada alasan bagi Pemprov DKI Jakarta untuk tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Koordinasi dan soliditas antar-BUMD menjadi kunci,” tegasnya.

Dari sisi cadangan, stok beras di Jakarta tercatat mencapai 182.172 ton. Rinciannya berasal dari Pasar Induk Beras Cipinang sebanyak 40.088 ton, Food Station 8.100 ton, stok Hari Besar Keagamaan Nasional 18.000 ton, Bulog 141.823 ton, serta Pasar Jaya 261 ton.

Ketersediaan protein hewani juga dipastikan aman. Perumda Dharma Jaya mencatat stok daging sapi 1.246 ton, daging ayam 435 ton, ikan kembung 547 ton, serta 1.010 ekor sapi hidup. Komoditas lain meliputi telur ayam 5,5 ton, cabai rawit 57 ton, bawang merah 104 ton, bawang putih 48 ton, minyak goreng 625 ton, dan gula 437,4 ton.

Selain menjaga pasokan, Pemprov DKI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menyiapkan berbagai langkah pengendalian inflasi. Upaya tersebut mencakup pemantauan harga dan stok secara berkala, pengawasan distribusi LPG 3 kilogram, penyelenggaraan bazar pangan murah, serta penguatan sistem distribusi.

Dengan berbagai langkah antisipatif tersebut, pemerintah berharap kebutuhan masyarakat selama Ramadan hingga Idul Fitri dapat terpenuhi tanpa gejolak harga yang berlebihan, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *