Tragedi Pernikahan Berujung Duka akibat Bom Bunuh Diri
JAKARTA – Tragedi berdarah mengguncang sebuah pesta pernikahan di Pakistan ketika seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan rompi berisi bahan peledak di tengah kerumunan tamu. Insiden memilukan itu menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai 25 lainnya, menjadikan acara yang seharusnya menjadi momen bahagia berubah menjadi duka mendalam.
Serangan tersebut terjadi di rumah Noor Alam Mehsud, seorang tokoh komunitas yang dikenal mendukung pemerintah, di Distrik Dera Ismail Khan, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa. Kepala Kepolisian setempat, Adnan Khan, menyatakan bahwa ledakan terjadi saat pesta pernikahan tengah berlangsung.
“Petugas membawa para korban ke rumah sakit,” ujar Adnan Khan, seraya menambahkan bahwa sejumlah korban luka berada dalam kondisi kritis dan masih menjalani perawatan intensif.
Dilansir kantor berita AFP, Sabtu (24/01/2026), peristiwa itu terjadi pada Jumat (23/01/2026) waktu setempat. Saat itu, para tamu sedang menari mengikuti irama gendang, sebuah tradisi yang umum dalam perayaan pernikahan di wilayah tersebut. Tanpa peringatan, pelaku menyusup ke tengah keramaian dan meledakkan diri, memicu kepanikan massal.
Hingga kini, belum ada kelompok yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, kecurigaan kuat mengarah pada Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP), kelompok militan yang selama beberapa tahun terakhir kerap melancarkan serangan terhadap aparat keamanan maupun warga sipil di Pakistan.
TTP diketahui terpisah dari Taliban Afghanistan, namun memiliki hubungan ideologis dan operasional. Kelompok ini semakin aktif sejak Taliban Afghanistan kembali berkuasa pada 2021, menyusul penarikan pasukan Amerika Serikat dan NATO setelah dua dekade konflik. Sejak saat itu, banyak pemimpin dan anggota TTP dilaporkan memperoleh perlindungan di wilayah Afghanistan.
Serangan terhadap acara pernikahan ini kembali menegaskan kerentanan warga sipil terhadap aksi terorisme, terutama di wilayah barat laut Pakistan yang kerap menjadi target kelompok bersenjata. Para analis menilai bahwa pemilihan pesta pernikahan sebagai sasaran menunjukkan upaya pelaku untuk menimbulkan dampak psikologis yang luas, tidak hanya kepada korban langsung, tetapi juga masyarakat secara umum.
Pemerintah Pakistan hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Namun, aparat keamanan setempat telah meningkatkan penjagaan dan melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap jaringan pelaku. Lokasi kejadian juga telah disterilkan guna mengumpulkan barang bukti dan memastikan tidak ada ancaman lanjutan.
Tragedi ini menambah panjang daftar serangan bom bunuh diri di Pakistan yang menyasar ruang publik. Di tengah upaya pemerintah memulihkan stabilitas keamanan, peristiwa di Dera Ismail Khan menjadi pengingat bahwa ancaman ekstremisme masih nyata dan terus membayangi kehidupan warga sipil. []
Siti Sholehah.
