Tren Positif IHSG, Saham Konglomerat Jadi Incaran Asing
JAKARTA – Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal April 2026 tidak hanya mencerminkan optimisme pasar, tetapi juga memunculkan pola pergerakan investor asing yang selektif dalam mengakumulasi saham berkapitalisasi besar dan sektor unggulan.
Pada Sabtu (04/04/2026), IHSG tercatat melanjutkan tren positif selama tiga hari berturut-turut. Kondisi ini dipengaruhi oleh kinerja sejumlah sektor utama, terutama infrastruktur, energi, barang baku, dan konsumer non-primer yang mencatatkan kenaikan signifikan.
Berdasarkan data yang dihimpun, sektor infrastruktur memimpin penguatan dengan kenaikan 4,37 persen, diikuti sektor energi 3,85 persen, barang baku 3,81 persen, serta konsumer non-primer sebesar 3,79 persen. Kinerja tersebut menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan proyek jangka panjang.
Aktivitas perdagangan saham juga mencerminkan tingginya minat pasar. Pada 11 Februari 2026, nilai transaksi mencapai Rp29,80 triliun dengan volume 62,06 miliar saham dan frekuensi 3,40 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun meningkat hingga Rp15.094 triliun.
Di tengah tren positif ini, investor asing tercatat aktif melakukan akumulasi saham, khususnya pada emiten dengan kapitalisasi besar. Fenomena pembelian bersih atau net buy menjadi indikator kuat adanya sentimen positif terhadap pasar domestik.
Pada perdagangan sesi I Jumat, 12 September (tahun tidak tersedia), investor asing mencatat net buy sebesar Rp111,7 miliar, meskipun secara volume terjadi net sell sebanyak 481 juta lembar saham. Kondisi ini mengindikasikan adanya fokus pada saham bernilai tinggi.
Sejumlah saham yang menjadi target akumulasi antara lain PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan net buy 67,87 juta lembar dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar 58,42 juta lembar, sebagaimana dilansir Idnfinancials, Sabtu (04/04/2026).
Pergerakan ini memperlihatkan kecenderungan investor asing untuk memilih saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi, terutama yang berada dalam kelompok konglomerasi besar. Selain faktor fundamental, stabilitas ekonomi makro, kebijakan pemerintah yang pro-investasi, serta pergerakan nilai tukar rupiah turut menjadi pertimbangan utama.
Di sisi lain, dinamika pasar juga menunjukkan adanya kompleksitas. Pada periode yang sama, investor asing sempat mencatat net sell sekitar Rp300 miliar di pasar reguler, meskipun IHSG secara keseluruhan menguat. Hal ini menandakan adanya perbedaan strategi antar pelaku pasar.
Bagi investor, khususnya pemula, kondisi ini menuntut kehati-hatian dalam mengambil keputusan. Analisis fundamental, diversifikasi portofolio, serta penentuan tujuan investasi menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko di tengah euforia pasar.
Selain itu, pemahaman terhadap indikator valuasi seperti price to earnings ratio (P/E), price to book value (PBV), dan dividend yield juga menjadi faktor krusial dalam menentukan kelayakan suatu saham.
Dengan volatilitas pasar yang tetap tinggi, investor diharapkan tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga mengedepankan strategi berbasis riset dan manajemen risiko. Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, kebijakan domestik, serta konsistensi kinerja sektor-sektor utama. []
Penulis: Ngatijo Sastro Wiryo | Penyunting: Redaksi01
