Trump Ancam Serangan Kedua jika Venezuela Tak Kooperatif

WASHINGTON DC – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Venezuela dengan melontarkan ancaman serangan militer lanjutan. Ancaman tersebut disampaikan menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS, yang kini ditahan di New York untuk menghadapi proses hukum terkait dugaan perdagangan narkoba.

Pernyataan Trump disampaikan di tengah ketidakpastian politik yang menyelimuti Venezuela pasca-operasi militer Amerika Serikat pada Sabtu (03/01/2026) dini hari waktu setempat. Operasi tersebut mengguncang struktur kekuasaan di Caracas dan memunculkan kekhawatiran internasional akan eskalasi konflik lebih lanjut di kawasan Amerika Latin.

Berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (04/01/2026) waktu setempat, Trump secara terbuka menyatakan bahwa opsi militer kembali tetap berada di meja kebijakan Washington. Ancaman itu ditujukan kepada anggota pemerintahan Venezuela yang masih bertahan, apabila mereka tidak bersedia bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam upaya yang disebut Trump sebagai langkah untuk “memperbaiki” Venezuela.

“Kita siap melakukan serangan kedua,” kata Trump kepada wartawan.

Saat seorang jurnalis menanyakan apakah kemungkinan operasi militer lanjutan terhadap Venezuela telah dikesampingkan, Trump memberikan jawaban tegas yang menandakan kelanjutan tekanan tersebut. “Tidak, tidak demikian. Jika mereka tidak berperilaku baik, kita akan melancarkan serangan kedua.”

Ancaman ini muncul bersamaan dengan proses hukum yang tengah dijalani Maduro di Amerika Serikat. Mantan pemimpin Venezuela itu kini ditahan di sebuah pusat penahanan di New York dan dijadwalkan menghadapi sidang pada Senin (05/01/2026) waktu setempat. Tuduhan yang diarahkan kepadanya mencakup keterlibatan dalam jaringan perdagangan narkoba internasional.

Penangkapan Maduro telah menciptakan ketidakpastian mendalam mengenai arah masa depan Venezuela, negara yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia namun telah lama dilanda krisis ekonomi, politik, dan kemanusiaan. Situasi tersebut menjadi alasan utama yang dikemukakan Trump dalam menjelaskan kebijakan agresif Washington.

Trump menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan segera mendorong pemilihan umum di Venezuela. Sebaliknya, Amerika Serikat berencana bekerja sama dengan elemen-elemen pemerintahan Maduro yang masih tersisa untuk memberantas perdagangan narkoba serta melakukan reformasi di sektor industri minyak.

Dalam sesi tanya jawab dengan media, Trump menyatakan bahwa prioritas AS saat ini adalah membenahi berbagai persoalan struktural yang ditinggalkan pemerintahan sebelumnya. “Yang menjadi fokus kita saat ini adalah semua masalah yang kita hadapi ketika Maduro berkuasa. Kita masih memiliki masalah-masalah tersebut, yang perlu ditangani. Kita akan memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk mengatasi tantangan dan persoalan tersebut,” katanya, seperti dikutip AFP.

Pernyataan Trump tersebut sejalan dengan sikap Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang sebelumnya menyebut penyelenggaraan pemilu di Venezuela dalam waktu dekat sebagai langkah yang “terlalu dini”. Pemerintahan AS menilai stabilisasi keamanan dan ekonomi harus menjadi prioritas sebelum transisi politik dilakukan.

Ancaman serangan kedua ini diperkirakan akan memicu reaksi keras dari sekutu-sekutu Venezuela dan memperbesar ketegangan geopolitik di kawasan. Sejumlah negara Amerika Latin serta aktor internasional sebelumnya telah menyuarakan kekhawatiran atas pendekatan militer AS yang dinilai berisiko memperburuk konflik dan penderitaan warga sipil.

Dengan pernyataan terbaru Trump, masa depan Venezuela kini berada di persimpangan antara tekanan militer, intervensi politik, dan upaya restrukturisasi yang diklaim Washington sebagai jalan menuju stabilitas. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *