Trump Ingin Terlibat Tentukan Pengganti Khamenei
WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keinginannya untuk ikut berperan dalam menentukan pemimpin tertinggi Iran berikutnya setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Pernyataan tersebut disampaikan Trump menyusul meningkatnya dinamika politik di Iran pascaserangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut.
Dalam wawancara dengan salah satu media internasional, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak menerima kemungkinan Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, menjadi pemimpin tertinggi Iran selanjutnya. Menurutnya, Mojtaba dinilai tidak memiliki pengaruh yang cukup untuk memimpin negara tersebut.
“Putra Khamenei kurang berpengaruh,” sebut Trump dalam wawancara tersebut.
Trump juga menegaskan bahwa dirinya merasa perlu ikut terlibat dalam proses penentuan pemimpin baru Iran. Ia bahkan membandingkan situasi tersebut dengan perkembangan politik di Venezuela yang sebelumnya juga melibatkan kepentingan Amerika Serikat.
“Saya harus terlibat dalam penunjukan tersebut, seperti dengan Delcy,” ucap Presiden AS itu, membandingkan situasi Iran dengan Venezuela, di mana presiden sementara Delcy Rodriguez mau bekerja sama dengan AS di bawah ancaman kekerasan setelah penggulingan pemimpin negara itu, Nicolas Maduro.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat berpotensi kembali terlibat dalam konflik militer dalam beberapa tahun ke depan apabila Iran tidak dipimpin oleh sosok yang dianggap mampu membawa stabilitas.
“Putra Khamenei tidak dapat diterima oleh saya. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa keselarasan dan perdamaian ke Iran,” kata Trump.
Namun demikian, belum diketahui secara jelas bagaimana peran yang dimaksud Trump dalam proses penentuan pemimpin baru Iran. Secara konstitusional, pemilihan pemimpin tertinggi Iran merupakan kewenangan Majelis Pakar, yakni lembaga yang terdiri dari 88 ulama senior yang memiliki hak memilih pemimpin tertinggi negara tersebut.
Sebagian besar anggota Majelis Pakar diketahui memiliki sikap yang sangat kritis terhadap Amerika Serikat. Karena itu, keterlibatan pihak luar dalam proses tersebut dinilai sangat kecil kemungkinan terjadi.
Ali Khamenei sendiri memimpin Iran sejak tahun 1989 atau lebih dari tiga dekade. Ia menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sistem politik Iran selama masa kepemimpinannya.
Khamenei dilaporkan tewas pada Sabtu (28/02/2026) waktu setempat setelah lokasi pertemuan antara dirinya dan sejumlah pejabat tinggi Iran menjadi target serangan udara. Otoritas Iran kemudian mengonfirmasi kematian tersebut sehari setelahnya serta menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Sepeninggal Khamenei, sejumlah tokoh disebut-sebut sebagai kandidat potensial pengganti pemimpin tertinggi Iran. Salah satu yang paling banyak dibicarakan adalah Mojtaba Khamenei yang merupakan putra kedua dari mendiang pemimpin tersebut.
Selain Mojtaba, beberapa nama lain juga muncul sebagai kandidat, di antaranya Alireza Arafi yang dikenal sebagai ulama berpengaruh dan dekat dengan Khamenei, Mohammad Mehdi Mirbagheri yang merupakan anggota Majelis Pakar, serta Hassan Khomeini yang merupakan cucu dari pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Nama lain yang juga disebut sebagai kandidat adalah Hashem Hosseini Bushehri, seorang ulama senior yang memiliki hubungan dekat dengan kepemimpinan Iran.
Hingga kini otoritas Iran belum mengumumkan secara resmi siapa yang akan menggantikan posisi Khamenei sebagai pemimpin tertinggi negara tersebut. Situasi politik di Iran masih terus berkembang seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. []
Siti Sholehah.
