Trump Kembali Kritik Kepemimpinan Baru Iran
WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan kritik terhadap kepemimpinan baru di Iran setelah negara tersebut menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi. Trump menyatakan keraguannya bahwa pemimpin baru Iran itu mampu menjalin hubungan damai dengan Amerika Serikat.
Dalam wawancara terbaru dengan media Amerika, Trump menyampaikan pandangannya mengenai dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran setelah pergantian kepemimpinan di Teheran. Ia menilai sosok Mojtaba Khamenei tidak akan mudah membangun hubungan yang stabil dengan Washington.
“Saya tidak yakin dia bisa hidup dalam damai,” ucap Trump dalam wawancara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan setelah otoritas Iran mengumumkan bahwa Mojtaba Khamenei telah dipilih sebagai pemimpin tertinggi negara tersebut. Penunjukan itu dilakukan untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang sebelumnya menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Ali Khamenei dilaporkan meninggal dunia setelah menjadi korban serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang terjadi pada akhir Februari lalu. Serangan tersebut menjadi bagian dari eskalasi konflik besar yang melibatkan Iran dengan dua negara tersebut.
Dengan penunjukan tersebut, Mojtaba Khamenei tercatat sebagai pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak revolusi yang menggulingkan monarki pada tahun 1979. Revolusi itu menjadi titik awal berdirinya Republik Islam Iran yang dipimpin oleh ulama.
Trump diketahui telah beberapa kali mengkritik keputusan pemerintah Iran yang menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pengganti ayahnya. Sebelumnya, ia juga menyebut penunjukan tersebut sebagai langkah yang keliru.
Presiden Amerika Serikat itu bahkan menyatakan ketidaksetujuannya secara terbuka terhadap proses pergantian kepemimpinan tersebut. Ia menilai keputusan itu tidak akan membawa perubahan positif dalam hubungan antara kedua negara.
Trump juga sempat memperingatkan bahwa kepemimpinan Mojtaba tidak akan bertahan lama tanpa adanya persetujuan dari Amerika Serikat. Pernyataan tersebut kembali menegaskan sikap keras pemerintah AS terhadap kepemimpinan baru di Iran.
Dalam wawancara yang sama, Trump turut menyinggung kemungkinan terjadinya dialog antara Washington dan Teheran. Meski demikian, ia tidak memberikan kepastian apakah pembicaraan tersebut benar-benar akan dilakukan dalam waktu dekat.
“Saya mendengar mereka sangat ingin berdialog,” ucapnya.
Trump kemudian menambahkan bahwa kemungkinan terjadinya dialog masih bergantung pada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Ia menyebut peluang tersebut hanya sebagai kemungkinan yang masih terbuka.
Pernyataan itu berbeda dengan sikap Trump sebelumnya yang pernah menyampaikan bahwa dirinya terbuka untuk berdialog dengan para pejabat Iran.
Selain membahas soal kepemimpinan baru Iran, Trump juga kembali memberikan pembenaran atas serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Iran bersama Israel sejak 28 Februari lalu.
Menurut Trump, keputusan untuk melancarkan serangan tersebut diambil karena adanya kekhawatiran bahwa Iran akan melakukan serangan lebih dahulu terhadap Amerika Serikat.
“Jika kita menunggu tiga hari, saya yakin kita akan diserang,” ucapnya.
Trump juga mengklaim bahwa serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat berhasil menghancurkan sebagian besar persediaan rudal milik Iran. Ia menyebut sekitar setengah dari persenjataan rudal Iran telah hancur akibat operasi militer tersebut.
Namun demikian, pemerintah Iran membantah pernyataan tersebut. Pihak Teheran menegaskan bahwa mereka tidak memiliki niat untuk mengembangkan senjata nuklir ataupun rudal yang mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat.
Dalam pernyataan lainnya, Trump mengungkapkan bahwa dua utusannya, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah memberikan laporan mengenai kemampuan nuklir Iran.
Menurut laporan yang diterima Trump, Iran disebut memiliki cadangan uranium yang diperkaya dalam jumlah besar. Ia mengklaim bahwa material tersebut cukup untuk memproduksi hingga sebelas bom nuklir.
Trump menilai informasi tersebut menjadi salah satu alasan utama di balik keputusan Amerika Serikat untuk melakukan tindakan militer terhadap Iran.
“Pada dasarnya mereka mengatakan bahwa saya harus menyerang mereka,” ujar Presiden AS itu.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sendiri masih terus berlangsung hingga kini, terutama setelah konflik militer di kawasan Timur Tengah meningkat dalam beberapa pekan terakhir. []
Siti Sholehah.
