Trump-Maduro Bahas Pertemuan Rahasia
JAKARTA – Ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Venezuela memasuki babak baru setelah laporan media menyebutkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah melakukan pembicaraan telepon secara diam-diam dengan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Meski kedua negara tengah berada dalam konflik politik dan militer berkepanjangan, komunikasi tersebut justru membahas kemungkinan pertemuan langsung di Amerika Serikat.
Informasi ini pertama kali diungkapkan oleh The New York Times pada Jumat (28/11/2025) waktu setempat. Kabar tersebut memperkuat dugaan adanya perubahan pendekatan politik dari Washington terhadap Caracas, meskipun tekanan militer dan sanksi ekonomi terhadap Venezuela masih berlangsung.
Dilansir AFP, Sabtu (29/11/2025), laporan itu muncul di tengah pengerahan kekuatan militer AS secara besar-besaran di wilayah Karibia, termasuk pengiriman kapal induk terbesar dunia. Washington menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan untuk memberantas perdagangan narkoba. Namun, pemerintah Venezuela menilai langkah itu sebagai upaya terselubung untuk menggulingkan rezim Maduro.
Ketegangan makin meningkat setelah pemerintah AS melancarkan operasi maritim yang menargetkan lebih dari 20 kapal di Laut Karibia dan Samudra Pasifik timur sejak awal September. Serangan-serangan itu dikabarkan menewaskan lebih dari 80 orang. Meski demikian, Washington belum memberikan bukti konkret bahwa kapal-kapal tersebut terlibat dalam penyelundupan narkoba atau membahayakan keamanan Amerika Serikat.
Menariknya, sumber laporan menyebutkan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, turut serta dalam panggilan telepon antara Trump dan Maduro. Namun, Gedung Putih memilih bungkam dan belum memberikan tanggapan resmi tentang informasi tersebut.
Laporan mengenai komunikasi rahasia ini muncul sehari setelah pernyataan Trump kepada pasukan militer AS mengenai langkah antinarkoba yang akan diperluas melalui jalur darat. Pernyataan Trump itu disebut semakin memperkeruh hubungan antara Washington dan Caracas.
“Anda mungkin memperhatikan bahwa orang-orang tidak ingin mengirimkan melalui laut, dan kita akan mulai menghentikan mereka melalui darat,” ujar Trump dalam pernyataannya. Ia menambahkan, “Juga, pengiriman melalui darat lebih mudah, tetapi itu (operasi) akan segera dimulai.”
Pengamat hubungan internasional menilai panggilan telepon tersebut menjadi sinyal bahwa jalur diplomasi mungkin tetap terbuka meskipun situasi politik dan militer memanas. Pertemuan antara dua pemimpin yang selama ini berseteru diyakini dapat memengaruhi arah geopolitik regional dan nasib rakyat Venezuela yang tengah menghadapi krisis ekonomi dan kemanusiaan.
Masih belum jelas apakah pertemuan tersebut akan benar-benar terealisasi. Namun, komunikasi yang terjadi menunjukkan bahwa dalam dunia diplomasi, pintu dialog tidak pernah benar-benar tertutup. []
Siti Sholehah.
