Trump Tahan Serangan, Harga Minyak Global Rontok Tajam

JAKARTA – Penundaan rencana serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran selama lima hari justru memicu koreksi tajam harga minyak dunia, yang anjlok hingga sekitar 11 persen di tengah meredanya kekhawatiran pasokan global dalam jangka pendek.

Berdasarkan laporan pasar energi global, harga minyak mentah Brent turun 10,9 persen menjadi 99,94 dolar AS per barel pada penutupan perdagangan Senin. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga merosot 10,3 persen ke level 88,13 dolar AS per barel.

Penurunan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan aksi militer terhadap Iran, yang sebelumnya memicu lonjakan harga akibat kekhawatiran eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Selain minyak mentah, harga bahan bakar seperti bensin dan solar berjangka di AS turut terkoreksi sekitar 10 persen, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak 2022. Kondisi ini mencerminkan respons cepat pasar terhadap perubahan dinamika geopolitik.

Meski terjadi koreksi tajam, volatilitas harga minyak masih tinggi dalam beberapa pekan terakhir. Fluktuasi ekstrem dipicu ketidakpastian konflik, di mana Brent sempat mencapai level tertinggi sejak Juli 2022 sebelum akhirnya terkoreksi.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut adanya perkembangan komunikasi antara AS dan Iran dalam 24 jam terakhir, dengan indikasi kesepahaman awal di antara kedua pihak.

Namun, klaim tersebut dibantah oleh pihak Iran. Pemerintah di Teheran menegaskan tidak ada negosiasi dengan AS, bahkan mengungkapkan telah melancarkan serangan baru ke Israel serta sejumlah target lain di kawasan Timur Tengah.

Sementara itu, Garda Revolusi Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) memperingatkan akan menyerang infrastruktur listrik Israel dan fasilitas pendukung pangkalan militer AS di kawasan Teluk apabila ancaman dari Washington benar-benar diwujudkan.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan harga minyak sempat mereda akibat penundaan konflik, risiko geopolitik masih tinggi dan berpotensi kembali mendorong lonjakan harga apabila ketegangan meningkat. Sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (24/03/2026), pelaku pasar masih mencermati perkembangan diplomasi dan militer di kawasan tersebut sebagai penentu arah harga energi global ke depan. []

Penulis: Reni Erina | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *