Trump Tuduh Iran Kembangkan Rudal Jarak Jauh
WASHINGTON DC – Presiden Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras terhadap Iran dalam pidato kenegaraannya di hadapan parlemen pada Selasa (24/02/2026) waktu setempat. Dalam pernyataannya, Trump menuding Teheran tengah mengembangkan kemampuan rudal jarak jauh yang berpotensi menjangkau wilayah daratan Amerika Serikat.
“Mereka telah mengembangkan rudal yang dapat mengancam Eropa dan pangkalan kita di luar negeri, dan mereka sedang berupaya membuat rudal yang akan segera mencapai Amerika Serikat,” kata Trump dalam pidato kenegaraannya pada hari Selasa (24/02/2026) waktu setempat.
Pernyataan tersebut mempertegas sikap Washington yang selama ini menaruh perhatian besar terhadap program persenjataan Iran, khususnya pengembangan rudal balistik. Teknologi rudal antarbenua atau intercontinental ballistic missile (ICBM) merupakan sistem persenjataan strategis yang hanya dimiliki segelintir negara karena kompleksitas dan daya jangkaunya yang sangat jauh.
Sebelumnya, pada 2025, Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat menyampaikan proyeksi bahwa Iran berpotensi memiliki rudal balistik antarbenua yang layak secara militer pada 2035, jika negara tersebut memutuskan untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Namun, laporan itu tidak menyimpulkan bahwa keputusan untuk memproduksi ICBM telah diambil oleh Teheran.
Saat ini, berdasarkan data Dinas Penelitian Kongres AS, Iran diketahui memiliki rudal balistik jarak pendek dan menengah dengan jangkauan hingga sekitar 1.850 mil atau sekitar 3.000 kilometer. Jarak tersebut dinilai cukup untuk menjangkau sejumlah target di kawasan regional, termasuk sebagian wilayah Eropa dan pangkalan militer Amerika Serikat di luar negeri. Sementara itu, jarak antara daratan Amerika Serikat dan wilayah paling barat Iran diperkirakan melebihi 6.000 mil.
Di tengah meningkatnya ketegangan, jalur diplomasi sebenarnya masih terbuka. Washington dan Teheran telah menyelesaikan dua putaran pembicaraan yang bertujuan merumuskan kesepakatan baru terkait program nuklir Iran, sebagai pengganti perjanjian sebelumnya yang dibatalkan pada masa jabatan pertama Trump. Putaran lanjutan dijadwalkan berlangsung pada Kamis (26/02/2026).
Pemerintah Amerika Serikat secara konsisten mendesak Iran untuk menghentikan pengayaan uranium. Selain isu nuklir, Washington juga menyoroti program rudal balistik Iran serta dukungan negara itu terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan Timur Tengah. Tuntutan tersebut sejauh ini ditolak oleh Teheran.
Sebagai bagian dari tekanan strategis, pemerintahan Trump telah meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah. Dua kapal induk dikerahkan ke kawasan tersebut, disertai lebih dari selusin kapal perang, sejumlah pesawat tempur, dan berbagai aset militer lainnya. Langkah ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa opsi militer tetap berada di atas meja apabila diplomasi tidak membuahkan hasil.
Trump pun berulang kali menyatakan kesiapan untuk mengambil tindakan tegas jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan baru. Situasi ini menempatkan hubungan Amerika Serikat dan Iran dalam fase yang kembali memanas, dengan dinamika antara tekanan militer dan upaya diplomatik berjalan beriringan. []
Siti Sholehah.
