Trump Umumkan Penyerahan Minyak Venezuela ke AS

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pernyataan kontroversial terkait hubungan baru antara Washington dan Caracas. Trump mengklaim bahwa pemerintah sementara Venezuela akan menyerahkan puluhan juta barel minyak mentah kepada Amerika Serikat. Minyak tersebut disebut akan dijual di pasar internasional, dengan hasil penjualannya berada di bawah kendali Amerika Serikat.

Pernyataan ini disampaikan Trump melalui akun media sosial pribadinya dan langsung menjadi perhatian publik internasional. Dalam unggahannya, Trump menekankan bahwa volume minyak yang akan diserahkan tidak kecil dan mencakup minyak berkualitas tinggi yang sebelumnya berada dalam status sanksi.

“Pemerintah sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 dan 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang dikenai sanksi, kepada Amerika Serikat,” tulis Trump, Rabu (07/01/2026).

Trump menyebut, penyerahan minyak tersebut merupakan bagian dari kesepakatan dengan otoritas sementara Venezuela setelah perubahan besar dalam struktur kekuasaan negara Amerika Latin itu. Ia menambahkan bahwa minyak tersebut akan dilepas ke pasar sesuai mekanisme harga global, namun pengelolaan keuangan hasil penjualannya akan berada di bawah otoritas Presiden Amerika Serikat.

“Minyak ini akan dijual dengan harga pasarnya, dan uang itu akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan uang itu digunakan untuk kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat,” katanya.

Klaim tersebut memunculkan diskusi luas mengenai batas kewenangan negara asing dalam mengelola sumber daya alam suatu negara, terlebih dalam situasi transisi politik. Isu ini semakin sensitif karena Venezuela selama ini dikenal memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia dan menjadi pemain penting dalam pasar energi global.

Pernyataan Trump tidak terlepas dari operasi militer Amerika Serikat yang dilakukan sebelumnya di Venezuela. Dalam operasi tersebut, Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh pasukan Amerika atas tuduhan keterlibatan dalam jaringan kartel narkoba internasional. Penangkapan itu secara efektif mengakhiri masa kekuasaan Maduro yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Trump menyebut operasi penangkapan tersebut sebagai langkah strategis yang dirancang dengan perhitungan matang. Ia mengungkapkan bahwa pengerahan pasukan dilakukan secara besar-besaran, namun tetap berjalan sesuai rencana.

“Kami mengerahkan banyak pasukan di lapangan, tetapi itu luar biasa. Secara taktis, itu brilian,” kata Trump dalam pernyataannya pada Selasa (06/01/2026).

Langkah Amerika Serikat yang diklaim mencakup penguasaan pengelolaan hasil penjualan minyak Venezuela dinilai sebagai bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas. Selain memperkuat posisi AS dalam peta energi dunia, kebijakan ini juga disebut-sebut sebagai upaya mengendalikan stabilitas ekonomi Venezuela pasca-pergantian kepemimpinan.

Namun, sejumlah pengamat menilai kebijakan tersebut berpotensi memicu polemik internasional. Pengendalian langsung hasil sumber daya alam oleh negara asing kerap menjadi isu sensitif dalam hukum internasional dan prinsip kedaulatan negara. Selain itu, belum ada kejelasan mekanisme hukum dan institusional terkait penggunaan dana hasil penjualan minyak tersebut.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa kebijakan itu justru bertujuan memastikan kekayaan alam Venezuela dimanfaatkan secara optimal dan tidak disalahgunakan. Ia juga menyebut bahwa sebagian hasil penjualan akan diarahkan untuk membantu pemulihan ekonomi Venezuela yang selama ini terpuruk akibat krisis berkepanjangan.

Pernyataan Trump ini menandai babak baru hubungan Amerika Serikat dan Venezuela, sekaligus menunjukkan bahwa isu energi tetap menjadi instrumen utama dalam kebijakan luar negeri AS. Perkembangan selanjutnya akan sangat menentukan arah stabilitas politik dan ekonomi kawasan Amerika Latin. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *