UMKM Indonesia Bidik Pasar Jepang Lewat Diplomasi Ekonomi
JAKARTA – Pemerintah mendorong pembukaan akses pasar ekspor bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui diplomasi ekonomi ke Jepang, dengan fokus pada peningkatan standar produk, harmonisasi regulasi, dan penguatan kerja sama teknologi di tengah ketatnya persaingan global.
Kunjungan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke Jepang pada akhir Maret 2026 diarahkan untuk memperluas peluang perdagangan sekaligus memperkuat kemitraan strategis di berbagai sektor, termasuk ekonomi, teknologi, pendidikan, dan lingkungan. Jepang dinilai sebagai mitra penting karena memiliki stabilitas ekonomi dan standar kualitas tinggi yang dapat menjadi tolok ukur daya saing produk Indonesia.
Dalam agenda tersebut, Presiden dijadwalkan bertemu dengan Kaisar Jepang Naruhito serta Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi guna membahas penguatan hubungan bilateral yang lebih relevan dengan kebutuhan ekonomi masa depan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa kunjungan ini tidak hanya bersifat diplomatik, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk mendorong peningkatan kualitas UMKM nasional.
Ia menjelaskan, keberhasilan produk Indonesia menembus pasar Jepang akan menjadi indikator kuat daya saing nasional di tingkat global.
Selain membuka akses pasar, pemerintah juga memprioritaskan penyelarasan regulasi perdagangan, termasuk terkait sertifikasi produk, standar lingkungan, serta prosedur ekspor guna mengurangi hambatan non-tarif.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menilai kerja sama ini sebagai peluang untuk memperkuat sektor masa depan yang berdampak langsung pada UMKM, seperti digitalisasi, energi, dan kelautan.
Menurutnya, adopsi teknologi dari Jepang akan meningkatkan efisiensi produksi dan memperluas jangkauan pemasaran pelaku UMKM melalui platform digital.
Sementara itu, ekonom Didik J. Rachbini memandang langkah tersebut sebagai strategi tepat dalam memperkuat posisi Indonesia di rantai nilai global atau value chain. Ia menilai hubungan Indonesia dan Jepang bersifat saling melengkapi, di mana Indonesia unggul pada sumber daya alam, sedangkan Jepang pada teknologi dan industri manufaktur.
Ia menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah produk agar UMKM tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk berdaya saing tinggi.
Pemerintah juga mengintegrasikan peran lintas kementerian dalam mendukung strategi ini, termasuk Kementerian Luar Negeri yang membuka akses pasar internasional dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang memastikan kesiapan sektor energi sebagai penopang industri.
Di tengah meningkatnya proteksionisme global dan fragmentasi rantai pasok, diplomasi ekonomi dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperluas pasar ekspor.
Melalui kunjungan ini, pemerintah berharap UMKM Indonesia mampu meningkatkan kualitas, memperluas pasar, dan menjadi bagian dari perdagangan internasional yang lebih kompetitif dan berkelanjutan. []
Penulis: Rizky Ananta | Penyunting: Redaksi01
