UMKM Sulsel Terjepit Kenaikan Harga Plastik, Ini Strateginya

fresh brown sugar coffee drink in a transparent plastic cup

MAKASSAR – Lonjakan harga produk berbahan plastik di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) memaksa pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menerapkan strategi bertahan, mulai dari menahan kenaikan harga hingga menyesuaikan tarif jual demi menjaga keberlangsungan usaha di tengah tekanan biaya operasional.

Kenaikan harga tersebut terjadi di beberapa daerah seperti Kota Makassar, Kabupaten Gowa (Gowa), hingga Kabupaten Takalar (Takalar), dengan persentase kenaikan bervariasi antara 10 persen hingga 50 persen. Kondisi ini berdampak langsung pada pelaku UMKM yang sangat bergantung pada kemasan plastik untuk aktivitas penjualan sehari-hari.

Salah satu pelaku usaha, Fadel, penjual minuman kopi di Parangbanoa, Kecamatan Pallangga, Gowa, mengaku harga gelas plastik yang biasa digunakan meningkat signifikan dari Rp22.500 menjadi Rp30.000. “Semenjak seminggu sebelum Lebaran, sudah mulai naik,” kata dia saat ditemui di depan toko Makassar Plastik, Jalan Andi Djemma, Makassar, dikutip dari Tribun Timur, sebagaimana diberitakan Kompas, Senin (06/04/2026).

Meski biaya produksi meningkat, Fadel memilih tidak langsung menaikkan harga jual produknya yang saat ini dipatok Rp13.000 per cup. “Sejauh ini belum kami naikkan, karena sebelumnya pricing sudah diatur. Jadi kenaikan kecil masih bisa ditahan,” katanya.

Berbeda dengan Fadel, pelaku usaha minuman di Takalar mulai melakukan penyesuaian harga. Pengelola Rumah Jajanan Zafna, Kina, mengungkapkan pihaknya menaikkan harga minuman dari Rp12.000 menjadi Rp15.000. “Terpaksa kami naikkan harga minuman dari Rp12.000 jadi Rp15.000,” ungkapnya.

Kendati demikian, Kina menyebut kenaikan harga tersebut tidak berdampak signifikan terhadap jumlah pembeli. “Pembeli tetap ada, karena mereka tahu memang ada kenaikan harga,” tuturnya.

Di tingkat distribusi, lonjakan harga juga dirasakan oleh pedagang bahan kemasan. Kasir Toko Aneka Plastik, Muhammad Ridwan Dg Mangung, mengatakan harga gelas plastik di Takalar naik dari sekitar Rp9.000 menjadi Rp16.500 per kemasan. “Iya, sekarang banyak yang naik. Gelas plastik itu yang paling terasa,” kata dia.

Ridwan menambahkan, sebagian konsumen sempat terkejut dengan kenaikan harga tersebut. “Ada yang sampai tidak jadi beli. Pas dibilang harganya Rp 16.500, langsung ditaruh lagi barangnya,” papar dia.

Kondisi serupa terjadi di Makassar, di mana harga gelas cup naik dari Rp8.000 menjadi Rp14.500 untuk 50 buah, sementara kantong plastik tahan panas meningkat dari Rp14.500 menjadi Rp24.000. Meski demikian, permintaan dinilai masih stabil karena kebutuhan yang bersifat mendesak.

“Biasanya mereka mengeluh sedikit, tapi tetap dibeli karena memang sudah butuh,” kata Ridwan. Sementara itu, karyawan toko plastik di Makassar, Inggi, menyebut tidak ada perubahan signifikan pada jumlah pembeli. “Masih sama, tidak ada perubahan,” kata dia.

Kenaikan harga plastik ini diduga dipicu oleh keterbatasan bahan baku yang berkaitan dengan dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah. “Semua yang berbahan plastik naik,” ujar Inggi.

Situasi ini mendorong pelaku UMKM di Sulsel untuk lebih adaptif dalam mengelola usaha, baik dengan menekan margin keuntungan maupun menaikkan harga secara selektif agar tetap bertahan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat. []

Penulis: Intan Maharani | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *