Venezuela dan AS Mulai Penjajakan Pemulihan Hubungan Diplomatik
JAKARTA – Pemerintah Venezuela mulai membuka kembali jalur komunikasi diplomatik dengan Amerika Serikat setelah hubungan kedua negara terputus sejak 2019. Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam peta hubungan bilateral yang selama bertahun-tahun diwarnai ketegangan politik, sanksi ekonomi, dan ancaman militer.
Otoritas Venezuela menyatakan proses ini masih berada pada tahap awal berupa penjajakan diplomatik. Fokus utama pembicaraan diarahkan pada kemungkinan pemulihan misi diplomatik masing-masing negara, termasuk pembukaan kembali perwakilan kedutaan yang telah lama ditutup.
Pemerintahan Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, disebut telah mengambil keputusan strategis untuk membuka dialog dengan Washington. Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil, menyampaikan bahwa langkah tersebut merupakan upaya formal untuk membangun kembali saluran diplomatik yang sempat terhenti selama beberapa tahun.
“Pemerintahan Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez telah memutuskan untuk memulai proses diplomatik penjajakan dengan pemerintah Amerika Serikat, yang bertujuan untuk membangun kembali misi diplomatik di kedua negara,” kata Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil dalam sebuah pernyataan.
Sebagai tindak lanjut dari keputusan tersebut, sejumlah diplomat Amerika Serikat dilaporkan telah melakukan kunjungan ke Caracas pada Jumat (09/01/2026). Kunjungan ini menjadi sinyal awal keseriusan kedua belah pihak untuk mengakhiri kebuntuan diplomatik yang telah berlangsung lama.
Seorang pejabat Amerika Serikat menyebutkan bahwa rombongan diplomat tersebut dipimpin oleh John McNamara, diplomat senior AS yang saat ini bertugas di Kolombia. Kunjungan tersebut difokuskan pada penilaian awal mengenai kesiapan dan kemungkinan dimulainya kembali operasi diplomatik secara bertahap di Venezuela.
John McNamara dan para personel lainnya “berkunjung ke Caracas untuk melakukan penilaian awal mengenai potensi dimulainya kembali operasi secara bertahap,” kata seorang pejabat AS yang tak ingin disebut namanya.
Sebagai respons atas kunjungan tersebut, pemerintah Venezuela menyatakan akan mengirimkan delegasi ke Washington dalam waktu dekat. Langkah timbal balik ini dinilai sebagai bagian dari upaya membangun kembali kepercayaan di antara kedua negara yang selama ini saling berseberangan dalam berbagai isu regional dan internasional.
Mencairnya komunikasi diplomatik ini terjadi dalam konteks yang sangat sensitif. Kurang dari sepekan sebelumnya, pasukan khusus Amerika Serikat melakukan operasi di Caracas yang berujung pada penangkapan Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Operasi tersebut disebut melibatkan serangan bom untuk melumpuhkan sistem pertahanan Venezuela.
Maduro, yang telah memimpin Venezuela selama 12 tahun, dilaporkan diterbangkan ke Amerika Serikat dengan kondisi mata tertutup dan tangan diborgol. Setibanya di sana, ia langsung dihadapkan ke pengadilan atas tuduhan perdagangan narkoba dan sejumlah dakwaan lain.
Penangkapan tersebut menjadi puncak dari rangkaian tekanan Amerika Serikat terhadap Venezuela, termasuk penyitaan kapal tanker yang mengangkut minyak serta operasi militer terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat dalam jaringan perdagangan narkotika di kawasan Amerika Latin.
Meski demikian, Nicolas Maduro secara konsisten membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Ia menilai langkah Amerika Serikat sebagai bentuk intervensi politik dan pelanggaran terhadap kedaulatan negaranya.
Di tengah situasi tersebut, keputusan Caracas dan Washington untuk membuka kembali dialog diplomatik dipandang sebagai langkah pragmatis guna meredam eskalasi konflik lebih lanjut. Para pengamat menilai proses ini akan berjalan kompleks dan penuh tantangan, mengingat luka politik yang masih membekas di kedua belah pihak.
Namun demikian, penjajakan diplomatik ini setidaknya membuka peluang bagi perubahan arah hubungan Venezuela–Amerika Serikat, setelah bertahun-tahun terjebak dalam konfrontasi terbuka dan ketegangan berkepanjangan. []
Siti Sholehah.
