Wall Street Rebound, Kekhawatiran Pasar Mulai Surut

JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS) menunjukkan pemulihan terbatas pada akhir perdagangan Kamis (02/04/2026), setelah tekanan kuat di awal sesi akibat lonjakan harga minyak dan ketegangan geopolitik mulai mereda, sehingga mendorong sebagian indeks utama kembali menguat.

Mengacu pada data pasar, indeks S&P 500 ditutup naik 0,11% ke level 6.582,69 dan Nasdaq Composite menguat 0,18% ke posisi 21.879,18. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average justru terkoreksi tipis 0,13% ke level 46.504,67. Indikator volatilitas Chicago Board Options Exchange Volatility Index (CBOE VIX) juga menurun ke level 23,87, menandakan kekhawatiran investor mulai berkurang.

Pemulihan ini terjadi seiring meredanya tensi antara AS dan Iran, terutama setelah muncul sinyal diplomasi terkait pengaturan lalu lintas energi di Selat Hormuz. Kondisi tersebut turut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global yang sebelumnya sempat memicu aksi jual besar-besaran di awal perdagangan.

Di sisi lain, harga minyak mentah sempat melonjak tajam akibat eskalasi konflik. Minyak mentah AS tercatat naik sekitar 11% ke kisaran US$111 per barel, sedangkan minyak Brent menguat sekitar 7% mendekati US$108 per barel. Meski demikian, proyeksi pasar menunjukkan harga berpotensi turun ke kisaran US$82 per barel pada Oktober mendatang.

Analis pasar dari Baird, Michael Antonelli, menilai arah pergerakan pasar masih belum stabil di tengah dinamika global yang cepat berubah. “Tetapi harga minyak pada Oktober menunjukkan pasar memperkirakan krisis ini kemungkinan akan berakhir pada musim gugur,” kata Antonelli, sebagaimana dilansir Katadata, Senin (06/04/2026).

Sepanjang pekan ini, pergerakan indeks mencerminkan sikap hati-hati investor. S&P 500 tercatat menguat 3,36%, Nasdaq Composite naik 4,44%, dan Dow Jones Industrial Average meningkat 2,96%. Kenaikan juga terjadi pada indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 sebesar 3,19%.

Perubahan preferensi investor terlihat dari penguatan sektor defensif seperti utilitas yang naik 0,6% dan properti sebesar 1,5%. Sebaliknya, sektor barang konsumsi mengalami tekanan dengan penurunan 1,5%, dipicu pelemahan saham perusahaan teknologi otomotif.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati perkembangan di sektor keuangan dan teknologi. Salah satunya pembatasan penarikan dana oleh Blue Owl Capital pada produk investasi berbasis ritel, serta rencana initial public offering (IPO) perusahaan antariksa milik Elon Musk yang berpotensi mencatat valuasi besar.

Volume transaksi di bursa AS tercatat 16,75 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 hari terakhir sebesar 17,82 miliar saham. Investor juga menunggu rilis data tenaga kerja AS, khususnya nonfarm payroll, sebagai indikator penting arah ekonomi ke depan.

Secara keseluruhan, pergerakan pasar menunjukkan fase transisi dengan kecenderungan pemulihan terbatas, meskipun risiko global masih membayangi dan berpotensi memicu volatilitas dalam jangka pendek. []

Penulis: Nur Hana Putri Nabila | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *