Wamenlu Arrmanatha Nasir Kritik Standar Ganda di Gaza di Sidang Darurat PBB

JAKARTA – Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arrmanatha Nasir blak-blakan membahas standar ganda yang ada di Gaza. Hal ini ia sampaikan melalui Sidang Darurat Majelis Umum PBB (ESS-10) yang membahas tindakan ilegal Israel di wilayah Palestina pada Rabu (4/12/2024).

Nasir menegaskan sejak 7 Oktober 2023, konflik Gaza telah merenggut sebanyak 44.532 jiwa, mayoritas diantaranya adalah perempuan dan anak. Jumlah korban ini bahkan melampaui populasi di 7 negara anggota PBB.

“Jika pembunuhan ribuan orang tak berdosa ini tidak dianggap sebagai genosida, lalu apa sebutan yang pantas?” ujar Nasir, seperti dikutip rilis Kementerian Luar Negeri, dikutip Sabtu (7/12/2024).

Di sisi lain, sebanyak 8 rancangan resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB yang bertujuan untuk menghentikan kekerasan di Gaza kandas akibat penggunaan hak veto. Dari empat resolusi yang berhasil disahkan DK PBB, tak satu pun dijalankan secara efektif.

Sementara, berbagai produk hukum dari Mahkamah Internasional dan Mahkamah Pidana Internasional yang menuntut akuntabilitas dan penghentian kejahatan kemanusiaan pun tidak ada yang dipatuhi.

Menurut Nasir, standar ganda ini seolah memberikan “lampu hijau” kepada Israel untuk melanjutkan kekerasan terhadap rakyat Palestina dan mencederai tatanan hukum internasional.

“Standar ganda yang dipertontonkan di Gaza saat ini merusak sistem multilateral,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Nasir mengajak negara-negara untuk mulai mengambil langkah konkrit, melalui penghentian pengiriman senjata ke Israel; implementasi Resolusi Dewan Keamanan PBB dan keputusan Mahkamah Internasional secara efektif, hingga perbaikan atas kondisi kemanusiaan di Gaza melalui bantuan internasional.

Indonesia juga menyesalkan langkah Israel yang terus menghambat masuknya bantuan internasional ke Gaza, dan meningkatnya upaya mendiskreditkan UNRWA.

“Kami turut merasa kehilangan atas gugur nya 333 pekerja kemanusiaan, termasuk 249 staf UNRWA, saat membantu warga Gaza. Mereka adalah harapan terakhir bagi kelangsungan hidup rakyat Gaza,” kata Nasir. Selama ini, UNRWA telah menjadi penyelamat bagi lebih dari 2 juta pengungsi Palestina.

Indonesia juga meyakini bahwa solusi dua negara adalah jalan satu-satunya menuju perdamaian yang berkelanjutan antara Palestina dan Israel.
“Saatnya dunia berpihak pada keadilan dan kemanusiaan, bukan pada kekerasan,” tegas Nasir, sambil mendesak semua negara untuk segera mengakui kemerdekaan Palestina tanpa syarat.

Sidang Darurat ini diselenggarakan sebagai akibat dari digunakan nya hal veto salah satu negara anggota tetap DK PBB atas rancangan resolusi yang menuntut gencatan senjata di Gaza pada 20 November 2024.

Melalui sesi sidang darurat ini, negara-negara anggota PBB diharapkan dapat mengesahkan dua resolusi, yakni resolusi yang mendorong gencatan senjata di Gaza serta dukungan politik terhadap UNRWA. []

Nur Quratul Nabila A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *