Wapres Iran Nyatakan Negara Siap Pertahankan Diri
JAKARTA — Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat seiring pernyataan tegas Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, yang menyebut negaranya telah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk skenario perang. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan, yang memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik berskala luas.
“Hari ini kita harus siap untuk keadaan perang. Strategi kita adalah kita tidak akan pernah memulai perang, tetapi jika itu dipaksakan, kita akan membela diri,” kata Reza Aref.
Pernyataan ini mencerminkan sikap defensif Iran yang menegaskan tidak memiliki niat untuk memicu konflik, namun tetap menyiapkan seluruh kapasitas nasional untuk menghadapi ancaman eksternal. Pemerintah Iran menilai situasi regional saat ini berada dalam kondisi sensitif, menyusul langkah Amerika Serikat yang mengerahkan kekuatan militernya ke wilayah sekitar Iran.
Meski menyampaikan kesiapan menghadapi konflik, Aref juga menegaskan bahwa jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Ia menyebut Iran tetap membuka peluang dialog dengan Washington, meskipun dengan syarat tertentu.
“Iran siap untuk bernegosiasi dengan AS,” ujarnya, seraya menambahkan, “kali ini kita menginginkan jaminan.”
Pernyataan tersebut mengisyaratkan pengalaman masa lalu yang membuat Teheran lebih berhati-hati dalam merespons tawaran perundingan, terutama terkait komitmen dan konsistensi pihak lawan. Namun, Aref tidak merinci bentuk jaminan yang dimaksud.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa armada militer tambahan tengah bergerak menuju kawasan sekitar Iran. Pernyataan itu disampaikan setelah militer AS mengumumkan kehadiran kapal induk USS Abraham Lincoln di Timur Tengah. Langkah tersebut dipandang oleh banyak pihak sebagai sinyal peningkatan tekanan militer terhadap Teheran.
Di sisi lain, Trump juga menyampaikan harapannya agar Iran dapat mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat, meskipun ketegangan di antara kedua negara terus meningkat. Pernyataan yang bersifat ganda ini dinilai mencerminkan strategi tekanan maksimum yang dibarengi dengan tawaran diplomasi.
Ketegangan yang berkembang tidak hanya menjadi perhatian Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga negara-negara besar lainnya. Pemerintah China menyampaikan peringatan keras terkait potensi intervensi militer di kawasan Asia Barat. Menurut Beijing, langkah militer sepihak berisiko memicu instabilitas regional yang dampaknya sulit diprediksi.
Berbicara di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, perwakilan China menilai situasi di sekitar Iran telah menarik perhatian global karena meningkatnya ancaman konflik terbuka. China menekankan bahwa tindakan militer yang dilakukan tanpa perhitungan matang dapat memperburuk keadaan dan menyeret kawasan ke dalam krisis yang lebih dalam.
“Perilaku militer yang gegabah akan memiliki konsekuensi yang mengerikan,” ujar perwakilan China tersebut. Ia juga menegaskan bahwa “penggunaan kekerasan tidak dapat menyelesaikan masalah. Setiap tindakan petualangan militer hanya akan mendorong kawasan ini ke jurang.”
Peringatan dari China mempertegas kekhawatiran internasional bahwa konflik terbuka antara Iran dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada kedua negara, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas global. Di tengah situasi ini, banyak pihak menyerukan agar semua aktor terkait menahan diri dan mengutamakan jalur diplomasi demi mencegah pecahnya perang yang lebih luas.[]
Siti Sholehah.
