Kesenian kuda lumping di Kampung Banjarejo kembali hidup dan menjadi sarana mempererat persatuan masyarakat melalui grup Turonggo Manunggal Jiwo.
KUTAI BARAT – Kesenian tradisional kuda lumping tetap bertahan dan berkembang di Kampung Banjarejo, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur (Kaltim), melalui aktivitas grup Turonggo Manunggal Jiwo yang rutin tampil dalam berbagai agenda budaya dan sosial masyarakat.
Pertunjukan ini menjadi bagian dari tradisi tahunan seperti halal bihalal, bersih desa, hingga peringatan satu Suro, yang selalu menarik antusiasme warga. Selain sebagai hiburan, kesenian ini juga dimaknai sebagai sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.
Ketua adat setempat, Eddy Panut, menjelaskan bahwa kesenian kuda lumping di kampung tersebut telah ada sejak lama, namun sempat mengalami kevakuman sebelum kembali dihidupkan pada 2018.
“Sebelumnya sudah ada kuda lumping ini, hanya sempat vakum. Kemudian dihidupkan lagi pada tahun 2018 dengan meminta izin petinggi dan para sesepuh kampung,” ujarnya saat diwawancarai pada Sabtu, (04/06/2026).
Menurutnya, kebangkitan kembali kesenian ini tidak hanya bertujuan melestarikan budaya, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat. “Kesenian ini kami hidupkan untuk menyatukan saudara-saudara, agar masyarakat lebih rukun dan mempererat silaturahmi,” tambahnya.
Ia juga menjelaskan makna filosofis nama grup Turonggo Manunggal Jiwo. “Turonggo berarti jaranan, manunggal berarti menyatukan, dan jiwo adalah jiwa manusia,” jelas Eddy.
Saat ini, grup tersebut memiliki anggota lebih dari 50 orang yang aktif terlibat dalam setiap pertunjukan. Selain tampil pada agenda tradisi, grup ini juga kerap diundang untuk mengisi acara masyarakat seperti pernikahan dan khitanan.
Untuk sekali penampilan, biaya yang dibutuhkan berkisar antara Rp8 juta hingga Rp10 juta, tergantung jarak dan lokasi acara.
Antusiasme masyarakat terhadap pertunjukan ini masih tergolong tinggi. Hal tersebut terlihat dari banyaknya warga yang memadati lokasi pertunjukan, terutama saat digelar pada malam hari.
Eddy berharap kesenian kuda lumping Turonggo Manunggal Jiwo dapat terus berkembang dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk donatur, agar keberlangsungannya tetap terjaga.
“Kami berharap ada donatur yang tertarik untuk mendukung kesenian ini, agar bisa terus berkembang dan membawa manfaat dalam mempererat persatuan masyarakat,” pungkasnya. []
Penulis: Nia Ariska | Penyunting: Aulia Setyaningrum