Harga Pangan Jatim Fluktuatif, Ini Komoditas yang Naik dan Turun
SURABAYA – Pergerakan harga kebutuhan pokok di Provinsi Jawa Timur (Jatim) pada Minggu, 5 April 2026 menunjukkan tren campuran, di mana sejumlah komoditas strategis mengalami kenaikan, sementara sebagian lainnya justru turun, mencerminkan dinamika pasokan dan permintaan yang belum stabil di tingkat konsumen.
Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo), harga sejumlah komoditas seperti gas elpiji 3 kilogram, bawang merah, cabai merah keriting, telur ayam kampung, serta minyak goreng mengalami kenaikan. Sebaliknya, komoditas protein seperti daging ayam dan telur ayam ras, serta beberapa jenis cabai dan bawang putih justru mengalami penurunan harga.
Adapun rincian harga rata-rata sejumlah bahan pokok di Jatim per 5 April 2026 antara lain beras premium Rp14.881 per kilogram, beras medium Rp12.993 per kilogram, gula kristal putih Rp17.240 per kilogram, minyak goreng curah Rp19.770 per liter, serta minyak goreng kemasan premium Rp21.106 per liter. Harga daging sapi tercatat Rp123.980 per kilogram, daging ayam ras Rp37.005 per kilogram, dan telur ayam ras Rp28.266 per kilogram.
Sementara itu, harga komoditas hortikultura juga bervariasi, seperti cabai rawit merah Rp67.401 per kilogram, cabai merah keriting Rp33.185 per kilogram, bawang merah Rp36.608 per kilogram, dan bawang putih Rp30.663 per kilogram. Untuk gas elpiji 3 kilogram, harga rata-rata berada di Rp19.924 per tabung.
Kenaikan harga tercatat pada elpiji 3 kilogram sebesar Rp128 atau 0,65 persen, bawang merah Rp170 atau 0,47 persen, cabai merah keriting Rp733 atau 2,26 persen, telur ayam kampung Rp1.621 atau 3,48 persen, serta minyak goreng kemasan premium Rp349 atau 1,68 persen. Di sisi lain, penurunan harga terjadi pada daging ayam ras sebesar Rp608 atau 1,62 persen, daging ayam kampung Rp653 atau 0,92 persen, telur ayam ras Rp204 atau 0,72 persen, serta cabai merah besar Rp596 atau 1,88 persen.
Perubahan harga tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca, distribusi logistik, hingga fluktuasi nilai tukar dan kebijakan pemerintah. Keseimbangan antara pasokan dan permintaan menjadi faktor utama yang menentukan arah harga di pasar.
Selain itu, kenaikan biaya produksi seperti pupuk, bahan bakar, dan upah tenaga kerja turut memberi tekanan pada harga jual di tingkat konsumen. Di sisi lain, gangguan rantai distribusi juga dapat memicu keterlambatan pasokan sehingga berdampak pada kenaikan harga di sejumlah wilayah.
Kondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih cermat dalam mengatur pengeluaran rumah tangga, terutama dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Pemerintah juga diharapkan terus memantau perkembangan harga guna menjaga stabilitas pasar dan daya beli masyarakat, sebagaimana dilansir Detikjatim, Minggu, (05/04/2026). []
Penulis: Irma BudiartiĀ | Penyunting: Redaksi01
