Suku Bunga Bertahan, BI Optimistis Ekonomi Tetap Tumbuh
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan suku bunga acuan tetap di level 4,75 persen dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan inflasi yang meningkat dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Keputusan tersebut ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Jumat (12/04/2026), sekaligus mempertahankan suku bunga Deposit Facility di level 3,75 persen dan Lending Facility sebesar 5,50 persen. Kebijakan ini mencerminkan langkah hati-hati otoritas moneter untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pengendalian inflasi.
Tekanan inflasi menjadi salah satu faktor utama di balik keputusan tersebut. Berdasarkan data, inflasi tahunan pada Februari 2026 mencapai 4,76 persen, meningkat dari 3,55 persen pada Januari 2026. Kenaikan ini menunjukkan tekanan harga yang masih berlangsung di pasar domestik.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga mengalami pelemahan. Pada 16 Maret 2026, rupiah tercatat berada di level Rp16.985 per dolar Amerika Serikat, atau melemah sekitar 1,29 persen dibandingkan posisi akhir Februari 2026.
“Kebijakan suku bunga yang stabil ini merupakan respons hati-hati kami untuk menyeimbangkan kebutuhan pertumbuhan ekonomi dengan urgensi menjaga inflasi dan nilai tukar rupiah. Kami berkomitmen penuh untuk mencapai target inflasi 2,5% plus minus 1% untuk periode 2026-2027,” kata Gubernur Bank Indonesia, sebagaimana dilansir Kompas, Jumat, (12/04/2026).
Meski menghadapi tekanan inflasi dan nilai tukar, BI tetap memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 berada dalam kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen. Proyeksi ini didukung oleh kinerja Produk Domestik Bruto (PDB) yang tumbuh 5,39 persen secara tahunan pada kuartal IV 2025.
Kebijakan suku bunga yang stabil diperkirakan memberikan dampak pada berbagai sektor, termasuk menjaga stabilitas suku bunga kredit perbankan, memberikan kepastian bagi investor, serta membantu meredam ekspektasi inflasi.
Ke depan, BI menilai stabilitas ekonomi domestik masih akan dipengaruhi oleh dinamika global, termasuk fluktuasi pasar keuangan internasional dan tekanan eksternal lainnya. Oleh karena itu, kebijakan moneter akan terus diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional. []
Penulis: Rina Kartika | Penyunting: Redaksi01
