Wamendag Roro Bawa Agenda AI dan UMKM ke Panggung Global

JAKARTA – Pemerintah Indonesia menegaskan penguatan digitalisasi, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), serta ekonomi hijau menjadi strategi utama menghadapi perubahan pola perdagangan global dalam forum Asia-Pacific Economic Cooperation Ministers Responsible for Trade (APEC MRT) 2026 di Suzhou, China. Agenda tersebut juga diarahkan untuk memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu menembus pasar internasional.

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Republik Indonesia (RI) Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan transformasi digital dan transisi hijau telah mengubah arah investasi serta perdagangan dunia sehingga diperlukan kerja sama antarnegara yang lebih kuat dan inklusif.

“Transformasi digital dan transisi hijau tengah membentuk ulang pola perdagangan dan investasi global,” kata Roro dalam forum The 32nd Asia Pacific Economic Cooperation Ministers Responsible for Trade (APEC MRT) sesi kedua bertema Foster New Engines of Innovative and Dynamic Trade and Investment Cooperation di Suzhou, China, sebagaimana diberitakan Kompas, Rabu, (27/05/2026).

“Oleh karena itu, kerja sama yang lebih kuat diperlukan agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas dan inklusif oleh seluruh ekonomi,” ujar Roro.

Dalam forum tersebut, Indonesia menyoroti perkembangan teknologi digital, termasuk AI, yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi perdagangan lintas negara melalui percepatan proses bisnis dan penurunan biaya transaksi. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan teknologi tersebut untuk mendukung perluasan pasar UMKM nasional.

Indonesia mencatat nilai Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi digital nasional diperkirakan mendekati 100 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada 2025. Pemerintah menilai capaian itu menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi domestik di tengah perlambatan ekonomi global.

Untuk mempercepat transformasi digital, pemerintah mengembangkan inisiatif TradeAI yang difokuskan pada penyederhanaan proses kepabeanan, peningkatan efisiensi logistik, serta percepatan arus perdagangan lintas batas.

Selain itu, Indonesia menyiapkan tiga agenda utama agar transformasi digital berjalan lebih merata, yakni perluasan infrastruktur digital, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan transfer teknologi, serta penguatan digitalisasi UMKM melalui program UMKM Go Digital dan UMKM BISA Ekspor.

“Pengembangan AI harus didasarkan pada prinsip kepercayaan, keamanan, dan inklusivitas, serta didukung investasi pada infrastruktur dan penguatan kapasitas,” kata Roro.

Di sisi lain, pemerintah juga menegaskan komitmen terhadap pengembangan ekonomi hijau melalui penguatan hilirisasi mineral kritis dan pembangunan ekosistem industri baterai hingga kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang terintegrasi.

Indonesia telah meratifikasi Paris Agreement dan menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca pada 2030. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat rantai pasok regional sekaligus menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat industri kendaraan listrik di kawasan ASEAN.

Roro menilai forum APEC memiliki posisi strategis dalam memperluas perdagangan produk ramah lingkungan, pengembangan energi terbarukan, transfer teknologi, hingga capacity building antaranggota ekonomi.

“Indonesia turut menegaskan bahwa upaya dekarbonisasi global tidak boleh menciptakan hambatan perdagangan baru,” ujar dia.

Menurut Roro, kebijakan terkait karbon perlu diterapkan secara transparan, nondiskriminatif, dan sejalan dengan aturan perdagangan multilateral agar tidak merugikan negara berkembang.

“Melalui forum APEC MRT 2026, Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama perdagangan kawasan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan melalui penguatan digitalisasi dan ekonomi hijau,” tegasnya. []

Penulis: Kiki Safitri | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *