Bulek Sarmi dan Perjuangan Sejak Subuh Demi Bertahan Hidup
Bulek Sarmi, pedagang keliling di Kubar, memulai hari sejak pukul 03.00 Wita demi bertahan hidup dengan berjualan dari kampung ke kampung.
KUTAI BARAT – Seorang pedagang keliling, Bulek Sarmi, tetap menjalani rutinitas berat setiap hari demi memenuhi kebutuhan hidupnya di Kampung Banjarejo, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur (Kaltim). Perempuan paruh baya ini memulai aktivitasnya sejak pukul 03.00 Wita dengan memasak berbagai dagangan, sebelum berkeliling menjajakan jualannya ke kampung-kampung sekitar.
Setiap dini hari, Bulek Sarmi menyalakan api di dapurnya untuk menyiapkan aneka makanan seperti nasi kuning, sayur matang, sayur mentah, kue, hingga ikan. Seluruh proses dilakukan sendiri tanpa bantuan, menghabiskan waktu sekitar tiga jam sebelum ia mulai berkeliling.
“Sudah berpuluh-puluh tahun begini,” tuturnya pelan saat di wawancarai dirumahnya Banjarejo, Minggu (12/04/2026).
Sekitar pukul 05.30 Wita, ia mulai berjualan dengan menyusuri Kampung Tering hingga Kampung Tering Lama di Kecamatan Tering. Ia menawarkan dagangannya dari rumah ke rumah, menjadi salah satu penanda aktivitas pagi bagi warga setempat.
Dalam menjalani pekerjaannya, Bulek Sarmi menghadapi berbagai tantangan. Jika sebelumnya ia berjalan kaki, kini ia menggunakan sepeda motor untuk berkeliling. Namun, akses menuju lokasi jualannya tidak selalu mudah karena ia harus menyeberang menggunakan perahu penyeberangan jenis puntun yang tidak selalu tersedia tepat waktu.
“Dulu jalan kaki, sekarang naik motor, naik puntun,” katanya, mengingat perjalanan panjang yang telah ia lalui.
Selain kendala transportasi, faktor teknis seperti kerusakan kendaraan juga kerap menghambat aktivitasnya. Meski demikian, ia tetap berusaha menjalankan rutinitasnya setiap hari.
Dalam sehari, penghasilan yang diperoleh Bulek Sarmi dapat mencapai sekitar Rp500 ribu sebelum dikurangi modal usaha. Pendapatan tersebut menjadi satu-satunya sumber penghidupan yang ia andalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Cukup nggak cukup, ya dicukup-cukupkan,” ucapnya dengan senyum tipis.
Bagi Bulek Sarmi, berdagang keliling bukan sekadar pekerjaan, tetapi satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Ketekunan dan konsistensinya mencerminkan perjuangan masyarakat kecil di daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses dan sarana.
Dengan segala keterbatasan yang ada, ia terus berkeliling dari kampung ke kampung, membawa dagangan sekaligus harapan agar kebutuhan hidupnya tetap terpenuhi setiap hari. []
Penulis: Nia Ariska | Penyunting: Aulia Setyaningrum
