Harga Bahan Baku Melonjak 40 Persen, Industri Tekstil Tertekan

JAKARTA – Lonjakan harga bahan baku hingga 40 persen akibat gejolak geopolitik global mulai menekan industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional, memicu kekhawatiran pelaku usaha terhadap keberlangsungan produksi di tengah kenaikan biaya yang signifikan.

Dampak tersebut dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, yang berimbas pada kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini diperparah oleh penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global, sehingga memicu efek berantai pada berbagai sektor industri, termasuk tekstil.

Ketua Umum (Ketum) Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan baku terjadi sangat cepat dalam waktu singkat.

“Harga paraxylene—bahan baku utama poliester—telah mencapai sekitar USD 1.300 per ton. Angka tersebut naik sekitar 40% dibandingkan dua pekan sebelumnya,” ujarnya, sebagaimana dilansir Merahputih, Rabu, (16/04/2026).

Kenaikan harga tersebut berdampak langsung pada rantai produksi industri tekstil, terutama sektor pemintalan benang yang sangat bergantung pada bahan baku berbasis minyak. Di tingkat pelaku usaha, tekanan biaya mulai dirasakan secara nyata.

Sapruddin, pelaku usaha pemintalan benang di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, menyebutkan bahwa kenaikan harga bahan baku telah mendorong penyesuaian harga jual produk.

Ia menyampaikan bahwa harga benang saat ini naik sebesar Rp2.000 per kilogram.

Kondisi ini mencerminkan rentannya industri TPT nasional terhadap fluktuasi global, khususnya yang berkaitan dengan energi dan bahan baku. Pelaku industri kini dihadapkan pada dilema antara menjaga daya saing harga dan mempertahankan keberlanjutan usaha di tengah lonjakan biaya produksi.

Jika tekanan ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan berdampak pada stabilitas produksi, penyerapan tenaga kerja, hingga kontribusi sektor tekstil terhadap perekonomian nasional. []

Penulis: Didik Setiawan | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *