Negosiasi AS–Iran Jadi Penahan Pergerakan Harga Minyak Dunia
JAKARTA – Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak stabil di kisaran US$ 91 per barel pada perdagangan Kamis, (16/04/2026), setelah mengalami volatilitas pada awal pekan. Stabilnya harga terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah, khususnya perkembangan negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih berlangsung dan berpotensi memengaruhi jalur pasokan energi global.
Pergerakan harga minyak tersebut dipengaruhi meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran. Pelaku pasar juga mencermati peluang tercapainya kesepakatan yang lebih luas, yang dapat berdampak pada pembukaan kembali jalur strategis perdagangan energi, termasuk Selat Hormuz. Situasi ini membuat investor bersikap hati-hati dalam merespons dinamika pasokan global.
Seorang sumber pasar energi sebagaimana dilansir Kontan, Kamis, (16/04/2026), menyebutkan bahwa “Washington dan Teheran sedang mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata dua minggu mereka untuk memberikan lebih banyak waktu untuk menegosiasikan kesepakatan perdamaian,”. Informasi tersebut memperkuat spekulasi bahwa jalur diplomasi masih menjadi opsi utama untuk meredakan ketegangan kawasan.
Namun demikian, risiko gangguan pasokan masih membayangi. Selat Hormuz dilaporkan belum kembali beroperasi secara normal, sementara blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap sejumlah pelabuhan Iran masih diberlakukan. Kondisi ini meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap potensi terganggunya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pusat suplai utama dunia.
Di sisi lain, Iran disebut telah mengeluarkan peringatan bahwa pihaknya dapat merespons kebijakan blokade dengan membatasi aktivitas pengiriman melalui sejumlah jalur strategis, termasuk Teluk Persia, Laut Oman, hingga Laut Merah. Eskalasi ini menambah ketidakpastian di pasar energi global dan menahan laju penurunan harga minyak lebih dalam.
Pelaku pasar kini menantikan perkembangan putaran kedua pembicaraan AS–Iran yang diperkirakan akan membahas pembukaan kembali Selat Hormuz serta isu pengayaan nuklir Iran. Hasil negosiasi tersebut diperkirakan menjadi faktor penentu arah harga minyak dalam jangka pendek, di tengah kondisi pasar yang masih sensitif terhadap risiko geopolitik. []
Penulis: Rizki Caturini | Penyunting: Redaksi01
