Rupiah Tertekan ke Rp17.188 per Dolar AS, Defisit APBN Jadi Sorotan
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus tertekan hingga mendekati level Rp17.200 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (17/04/2026), dipicu kombinasi tekanan fiskal domestik dan tingginya kebutuhan impor energi.
Berdasarkan data pasar, rupiah di pasar spot melemah 50 poin atau sekitar 0,29 persen ke posisi Rp17.188 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya Rp17.138 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) turut melemah ke level Rp17.189 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang domestik dinilai tidak semata berasal dari faktor global, tetapi juga dipengaruhi kondisi internal, khususnya persepsi pasar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang mendekati batas defisit. Defisit fiskal diproyeksikan mencapai 2,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), mendekati ambang batas yang ditetapkan.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah saat ini relatif lebih dalam dibandingkan mata uang negara lain. “Bagaimana posisinya nilai tukar rupiah dibandingkan dengan mata uang negara lainnya? Ya mata uang rupiah saat ini mungkin pelemahannya lebih tajam dibandingkan dengan mata uang negara lain,” ujarnya sebagaimana dilansir Money, Jumat (17/04/2026).
Ia menambahkan bahwa faktor defisit anggaran menjadi perhatian utama pelaku pasar. “Karena apa? Karena lagi-lagi saya katakan, saya lihat tentang masalah defisit anggaran yang masih dijadikan sebagai momok. Ya karena kita lihat bahwa hampir mendekati 2,9 persen. Nah ini yang cukup menarik sehingga mata uang rupiah terus mengalami pelemahan,” kata Ibrahim.
Tekanan fiskal juga dipicu meningkatnya beban subsidi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM), di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia. Ketergantungan impor minyak yang mencapai sekitar 1 juta barel per hari mendorong kebutuhan dolar AS tetap tinggi, sehingga memperbesar tekanan terhadap rupiah.
“Anggaran pendapatan belanja negaranya itu sedikit lebih stabil dibandingkan dengan Indonesia, karena Indonesia masih mempertahankan harga BBM, terutama subsidi. Sehingga apa? Sehingga pemerintah harus mensubsidi begitu besar-besar lagi ya terhadap impor harga minyak mentah yang cukup besar,” tukasnya.
Di sisi lain, pemerintah memastikan kebijakan stabilisasi harga energi tetap berjalan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan harga BBM subsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026.
“Insyaallah stok kita di atas standar minimum, baik itu solar, bensin, maupun elpiji. Kami sudah bersepakat atas arahan Bapak Presiden bahwa harga BBM subsidi tidak akan dinaikkan sampai akhir tahun,” ungkap Bahlil.
Pemerintah juga menilai ruang fiskal masih terjaga selama harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) berada di bawah asumsi APBN. Rata-rata ICP sejak awal tahun tercatat sekitar 77 dolar AS per barel, masih di bawah batas kritis 100 dolar AS per barel.
Ke depan, pemerintah mulai mengkaji diversifikasi pasokan energi melalui kerja sama internasional guna memperkuat ketahanan energi nasional. Langkah ini diharapkan dapat menekan beban impor sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. []
Penulis: Dimas Nugroho | Penyunting: Redaksi01
