Gen Z Dorong Lonjakan Tabungan Emas di Bank Syariah

PALEMBANG – Perubahan perilaku menabung masyarakat mulai bergeser dari simpanan uang ke investasi emas, seiring meningkatnya minat terhadap instrumen yang dinilai lebih stabil di tengah fluktuasi ekonomi dan perkembangan keuangan syariah.

Fenomena ini tercermin dari data PT Bank Syariah Indonesia Tbk (Bank Syariah Indonesia/BSI) yang mencatat pertumbuhan signifikan pada produk tabungan emas, khususnya di luar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Salah satu contohnya terjadi di wilayah Sumatra Selatan (Sumsel), sebagaimana diwartakan Kabarbursa, Senin, (20/04/2026).

Branch Manager (BM) BSI Cabang Palembang Sudirman, Oki Eka Danurwinarto, menyebut perubahan tersebut dipicu oleh pergeseran pola pikir nasabah, terutama generasi muda, terhadap instrumen investasi.

“Kami merubah landscape dari segmentasi pola pikir nasabah-nasabah di bank syariah. Kemudian ini mendorong terjadinya perubahan pola simpan masyarakat yang awalnya dari cash itu menjadi menyimpanan dalam bentuk emas. Saya yakin Gen Z sekarang melihat emas ini investasi yang bentuknya memang menarik,” ujarnya.

Menurut dia, tren ini juga didorong oleh kepercayaan publik terhadap layanan BSI yang telah mengantongi lisensi Bullion Bank dan Syariah Banking License. Kedua lisensi tersebut memperkuat posisi bank dalam menyediakan layanan investasi emas yang aman dan sesuai prinsip syariah.

Oki mengungkapkan, pergeseran tersebut berdampak langsung pada komposisi simpanan nasabah. Simpanan dalam bentuk uang mengalami penurunan, sementara tabungan emas meningkat cukup tajam.

“Dengan adanya dua lisensi kami, pola simpanan dari masyarakat itu yang semulanya menyimpan dalam bentuk uang justru berkurang menjadi 8,9 persen dan yang dalam bentuk emas itu naik 18,78 persen pada 2024,” jelas Oki.

“Dua lisensi itu juga menggerakan nasabah-nasabah kami yang awalnya pertambahan setiap tahunnya paling besar itu 1,8 juta nasabah, menjadi 2 juta pada 2025,” sambungnya.

Tidak hanya dari kalangan muslim, peningkatan minat terhadap layanan perbankan syariah juga datang dari nasabah non-muslim. Hal ini menunjukkan semakin terbukanya industri keuangan syariah di berbagai lapisan masyarakat.

“Terkait dengan inklusifitas kami, partisipasi dari nasabah non-muslim itu sekarang juga mengalami kenaikan. Yang tadinya 9 persen itu menjadi 13,3 persen untuk yang non-muslim. Jadi inklusifitas terkait dengan bank syariah ini juga lebih terbuka lagi. Tidak hanya muslim tapi non-muslim juga mulai banyak tertarik dengan produk-produk bank syariah,” terang Oki.

Untuk mendukung tren tersebut, BSI menghadirkan produk investasi emas yang terjangkau dan fleksibel, termasuk layanan pembelian emas digital dengan nominal kecil yang dapat diakses kapan saja.

“Kami punya produk untuk beli emas digital dengan investasi awal cukup dengan Rp50 ribu. Emas tersebut bisa untuk dicetak dalam bentuk fisik minimal 2 gram. Dan ini bisa dijalankan 24 jam 7 hari. Makanya ini sangat mendorong angka-angka penyimpanan emas,” pungkas Oki.

Pergeseran pola simpanan ini dipandang sebagai indikasi meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memilih instrumen investasi yang lebih adaptif terhadap dinamika ekonomi, sekaligus menjadi peluang bagi perbankan syariah untuk memperluas pangsa pasar dan meningkatkan inklusi keuangan nasional. []

Penulis: Harun Rasyid | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *