Bank DBS: Gejolak Global Justru Buka Peluang Ekspansi Bisnis Indonesia
JAKARTA – Perbankan menilai gejolak geopolitik global dan perubahan kebijakan perdagangan internasional justru membuka peluang baru bagi pelaku usaha Indonesia untuk memperluas ekspansi bisnis lintas negara, terutama melalui penguatan kemitraan dengan Tiongkok.
Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS), PT Bank DBS Indonesia (Bank DBS Indonesia) menekankan pentingnya kesiapan strategi korporasi dalam menghadapi ketidakpastian sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan di kawasan Asia yang dinilai semakin prospektif.
Director of Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, mengatakan perubahan lanskap ekonomi global tidak hanya menghadirkan risiko, tetapi juga momentum transformasi bagi dunia usaha.
“Momentum Indonesia–Tiongkok bukan hanya peluang perdagangan, tetapi juga mencerminkan transformasi lanskap bisnis regional yang semakin terintegrasi,” ujarnya, sebagaimana dilansir Pasardana, Senin, (20/04/2026).
Menurut dia, dinamika geopolitik yang memicu gangguan rantai pasok global dan volatilitas pasar harus direspons dengan langkah strategis yang komprehensif, termasuk diversifikasi pasar dan penguatan jaringan produksi regional.
Bank DBS Indonesia mencatat, Asia tetap menjadi kawasan dengan pertumbuhan relatif kuat di tengah tekanan global, dengan Tiongkok berperan sebagai salah satu motor utama ekonomi regional. Kondisi ini membuka ruang bagi pelaku usaha Indonesia untuk terlibat lebih dalam dalam rantai pasok global yang terintegrasi.
Selain itu, pengelolaan risiko nilai tukar menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas keuangan perusahaan. DBS Group Research memperkirakan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah (United States Dollar/Indonesian Rupiah atau USD/IDR) berada di kisaran Rp16.350 pada akhir 2026, seiring tren penguatan dolar sejak 2025.
Dalam konteks tersebut, strategi seperti hedging, natural hedge, serta penyesuaian struktur pembiayaan dinilai penting untuk menjaga margin dan arus kas tetap sehat di tengah fluktuasi pasar valuta asing.
Di sisi lain, prospek ekonomi domestik yang tetap stabil menjadi modal utama bagi ekspansi usaha. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berada di kisaran 5,3 persen dengan inflasi terjaga sekitar 2,8 persen, sehingga menciptakan ruang bagi peningkatan investasi dan pembiayaan perdagangan.
Bank DBS Indonesia juga menyoroti pergeseran rantai pasok global yang mendorong perusahaan-perusahaan Tiongkok memperluas basis produksi ke luar AS, termasuk ke Indonesia. Hal ini tercermin dari peningkatan investasi Tiongkok yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, khususnya di sektor industri strategis seperti logam, logistik, energi, dan kimia.
Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi korporasi nasional untuk tidak hanya berperan sebagai eksportir, tetapi juga terlibat dalam rantai nilai industri yang lebih luas melalui kemitraan strategis, termasuk skema joint venture dan integrasi produksi lintas negara.
Untuk mendukung hal tersebut, Bank DBS Indonesia melalui DBS Global Financial Markets (GFM) menghadirkan solusi keuangan terintegrasi guna membantu nasabah mengelola risiko serta memanfaatkan peluang investasi di tengah ketidakpastian global.
“Perusahaan yang siap secara finansial dan strategis akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai global. Sebagai mitra tepercaya bagi pertumbuhan bisnis dan pengelolaan kekayaan, Bank DBS Indonesia hadir untuk membantu nasabah merancang strategi yang lebih adaptif dan berkelanjutan untuk menangkap peluang baru di tengah perubahan ekonomi melalui keahlian global dengan perspektif Asia serta dialog ahli didukung koneksi strategis,” tambah Anthonius.
Dengan strategi yang tepat dan dukungan sistem keuangan yang adaptif, pelaku usaha Indonesia diharapkan mampu menjaga ketahanan bisnis sekaligus memperluas peran dalam ekosistem ekonomi regional yang terus berkembang. []
Penulis: Corri | Penyunting: Redaksi01
