Rupiah Tertekan, Bank Sentral Waspadai Dampak Harga Minyak dan Geopolitik
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan bergerak terbatas pada perdagangan Selasa, di tengah tekanan eksternal dari harga energi tinggi dan ketidakpastian kebijakan global, meski sempat menunjukkan penguatan tipis di pasar Non-Deliverable Forward (NDF).
Berdasarkan data pasar, rupiah di pasar NDF dibuka stagnan di level Rp17.142 per dolar AS sebelum menguat 0,1 persen ke posisi Rp17.125 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS bergerak fluktuatif dari 98,06 menjadi 98,08, mencerminkan sentimen global yang masih belum stabil.
Tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh pergerakan harga minyak dunia yang masih tinggi. Harga minyak tercatat di level 96,12 dolar AS per barel, naik 5,74 persen, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 86 dolar AS per barel meski mengalami penurunan 2,2 persen.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang relatif terbatas. Yen Jepang, dolar Hong Kong, dan dolar Singapura tercatat melemah tipis masing-masing sekitar 0,01 persen, menunjukkan belum adanya perubahan signifikan dalam sentimen regional.
Dari sisi pasar obligasi, imbal hasil (yield) tenor pendek hingga menengah mengalami kenaikan tipis. Obligasi tenor satu tahun naik 0,7 basis poin menjadi 5,64 persen, tenor dua tahun naik 0,8 basis poin ke 5,89 persen, tenor tiga tahun naik 0,6 basis poin ke 6,04 persen, dan tenor empat tahun meningkat 0,6 basis poin menjadi 6,29 persen. Sementara itu, tenor lima tahun relatif stabil di 6,3 persen dan tenor acuan 10 tahun turun 0,6 basis poin ke 6,59 persen.
Meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda dengan rencana perundingan antara Iran dan AS, tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya hilang. Kenaikan harga energi dinilai masih berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), karena berada di atas asumsi yang telah ditetapkan pemerintah.
Di dalam negeri, rencana pemerintah menerapkan bea keluar komoditas pertambangan juga memicu perdebatan. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menekan margin pelaku usaha dan meningkatkan ketidakpastian investasi, terutama setelah lembaga pemeringkat Fitch Ratings menyoroti risiko penurunan peringkat kredit sektor pertambangan.
Meski demikian, kebijakan tersebut diperkirakan dapat memberikan tambahan penerimaan negara hingga Rp25 triliun dari sektor batu bara. Namun, potensi manfaat fiskal itu harus diimbangi dengan risiko terhadap arus investasi yang selama ini menopang stabilitas eksternal.
Dalam kondisi ini, pelaku pasar cenderung mengambil sikap risk-off, seiring kombinasi tekanan global dan domestik yang belum sepenuhnya mereda. Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.100 hingga Rp17.250 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Secara teknikal, rupiah berpotensi melanjutkan tren penguatan jangka pendek dengan target mendekati level resistensi Rp17.150 per dolar AS dan peluang menembus Rp17.100 per dolar AS. Jika level tersebut tercapai, penguatan lanjutan menuju Rp17.000 per dolar AS terbuka. Sementara itu, level psikologis Rp17.200 per dolar AS menjadi batas dukungan (support) penting, yang jika ditembus dapat membuka pelemahan ke Rp17.400 per dolar AS. Sebagaimana dilansir Bloomberg Technoz, Senin (21/04/2026). []
Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01
