Kapal Iran Ditahan AS, Harga Minyak Global Langsung Meroket
JAKARTA – Lonjakan harga minyak mentah dunia kembali terjadi pada awal pekan ini, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu kekhawatiran gangguan distribusi energi global, terutama di jalur strategis Selat Hormuz.
Kenaikan harga tersebut terjadi pada Senin (20/04/2026) ketika pasar merespons aksi militer AS yang menahan kapal kargo Iran di kawasan tersebut, serta ancaman balasan dari Iran yang memperbesar risiko konflik terbuka di Timur Tengah.
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Mei 2026 tercatat melonjak sebesar US$4,76 atau sekitar 5,7 persen menjadi US$88,61 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Juni 2026 juga naik US$4,37 atau sekitar 4,8 persen ke level US$94,75 per barel di London ICE Futures Exchange.
Kondisi ini memperlihatkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap dinamika geopolitik, khususnya di wilayah Timur Tengah yang menjadi salah satu pusat distribusi minyak dunia.
Penahanan kapal kargo Iran oleh militer AS pada akhir pekan lalu disebut sebagai pemicu utama lonjakan harga, di tengah masih terbatasnya arus pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi global.
Situasi semakin memanas setelah Iran menyatakan akan mengambil langkah balasan atas tindakan tersebut, sehingga meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas.
Ketidakpastian ini berpotensi menekan stabilitas pasokan minyak dunia, sekaligus mendorong volatilitas harga energi dalam jangka pendek.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar global kini mencermati perkembangan diplomasi kedua negara, mengingat setiap perubahan situasi di kawasan tersebut dapat berdampak langsung terhadap harga energi dan inflasi global.
Kenaikan harga minyak juga berpotensi memberi tekanan tambahan bagi negara-negara importir energi, termasuk Indonesia, terutama dalam menjaga stabilitas fiskal dan inflasi domestik.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik masih menjadi penentu utama arah pasar energi global, sekaligus menuntut kesiapan kebijakan dari berbagai negara dalam mengantisipasi dampaknya terhadap perekonomian nasional.[]
Penulis: Rezy | Penyunting: Redaksi01
