Pasokan Terancam, Harga Minyak Global Melonjak Drastis

JAKARTA – Lonjakan harga minyak dunia di atas 5 persen pada awal pekan menjadi sinyal meningkatnya risiko pasar energi global, dipicu eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memanas, termasuk penutupan jalur strategis Selat Hormuz.

Harga minyak mentah global melonjak signifikan pada Senin (20/04/2026) setelah aksi militer AS menyita kapal kargo berbendera Iran dan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dunia, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak global.

Dilaporkan, harga minyak mentah Brent berjangka sebagai acuan global naik 5,7 persen menjadi 95,49 dolar Amerika Serikat (AS) per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 5,8 persen ke level 87,38 dolar AS per barel. Kenaikan tajam ini terjadi di tengah ketidakpastian terkait kelanjutan gencatan senjata antara AS dan Iran.

Ketegangan meningkat setelah Komando Pusat Amerika Serikat (United States Central Command/CENTCOM) menahan kapal kargo Iran bernama M/V Touska yang dianggap tidak mematuhi peringatan selama enam jam. Aksi tersebut direspons keras oleh Iran yang mengecam tindakan tersebut dan menyatakan akan melakukan pembalasan.

Presiden AS Donald Trump turut menyoroti insiden tersebut melalui pernyataannya di media sosial. Ia menyebut tindakan Iran sebagai “Pelanggaran Total terhadap Perjanjian Gencatan Senjata kita!” sekaligus mengindikasikan kecilnya peluang perpanjangan kesepakatan damai jika tidak tercapai hingga batas waktu yang ditentukan.

Situasi semakin kompleks ketika Iran kembali menutup Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia. Penutupan ini memperbesar risiko gangguan pasokan energi global dan meningkatkan volatilitas harga komoditas.

“Peningkatan kembali ketegangan di Timur Tengah menimbulkan angin bearish di Wall Street karena investor mempertimbangkan risiko bahwa konflik AS-Iran dapat berkepanjangan. Penutupan lain di Selat Hormuz menghambat aliran pasokan energi penting, karena Teheran dan Washington bergulat di sepanjang jalur air penting tersebut, bahkan melibatkan serangan dalam dua hari terakhir tepat ketika gencatan senjata akan berakhir pada hari Rabu ini,” kata ekonom senior di Interactive Brokers José Torres, sebagaimana dilansir Investing, Selasa (21/04/2026).

Di sisi lain, kebijakan blokade yang diterapkan AS terhadap aktivitas pelayaran Iran disebut berdampak signifikan terhadap ekonomi negara tersebut. Iran diperkirakan mengalami kerugian hingga 500 juta dolar AS per hari akibat terhambatnya ekspor energi.

Analis pasar dari OCBC menilai kondisi ini berpotensi memperpanjang ketidakpastian global. “Pasar mungkin telah memperkirakan dimulainya kembali aliran energi yang terlalu cepat. Kebuntuan tampaknya akan berlarut-larut karena kedua pihak menguji ambang batas kesabaran. Dalam jangka pendek, beberapa gejolak risiko dan pemulihan dolar AS kemungkinan akan terjadi,” tulis analis tersebut.

Meski demikian, harapan terhadap tercapainya kesepakatan damai masih terbuka, meskipun prosesnya diperkirakan akan berlangsung alot dan penuh risiko tinggi. Ketidakjelasan jadwal negosiasi lanjutan antara kedua negara semakin menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar global.

Dengan meningkatnya tensi geopolitik dan gangguan pada jalur distribusi energi utama, pasar minyak diperkirakan akan tetap bergerak fluktuatif dalam jangka pendek, sekaligus menjadi perhatian utama bagi stabilitas ekonomi global. []

Penulis: Eko Nordiansyah  | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *