Wall Street Melemah, Tekanan Saham Teknologi Bayangi Pasar
NEW YORK – Pelemahan saham sektor teknologi menjadi faktor utama yang menekan pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (01/07/2026) waktu setempat. Meski saham Meta Platforms menguat, tekanan jual di sektor teknologi membuat indeks-indeks utama Wall Street berakhir di zona merah tipis di tengah perhatian investor terhadap arah kebijakan bank sentral dan perkembangan geopolitik.
Indeks Standard & Poor’s 500 (S&P 500) ditutup turun 14,34 poin atau 0,19 persen ke level 7.485,02. Indeks Nasdaq Composite terkoreksi 169,56 poin atau 0,65 persen menjadi 26.044,16, sedangkan Dow Jones Industrial Average (DJIA) melemah tipis 3,62 poin atau 0,01 persen ke posisi 52.315,58.
Pergerakan pasar dipengaruhi pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh yang menegaskan bank sentral Amerika Serikat tetap berkomitmen menjaga target inflasi sebesar 2 persen. Warsh juga menyampaikan bahwa risiko inflasi mulai mereda dalam beberapa waktu terakhir, namun tidak akan mengakomodasi dorongan pelonggaran kebijakan moneter meskipun Presiden Donald Trump kembali meminta penurunan suku bunga.
Setelah pernyataan tersebut, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga sedikit berkurang. Namun, berdasarkan data yang dihimpun London Stock Exchange Group (LSEG), pelaku pasar masih memperkirakan setidaknya akan terjadi satu kali kenaikan suku bunga oleh The Fed pada tahun ini.
Di tengah tekanan pada saham teknologi, saham Meta Platforms justru mencatat penguatan setelah laporan Bloomberg News menyebut perusahaan itu tengah mengembangkan layanan komputasi awan (cloud) untuk memasarkan kapasitas komputasi artificial intelligence (AI) yang belum dimanfaatkan.
βHal ini tampaknya akan terus menjadi faktor yang mendukung pergerakan saham Meta,β kata Senior Portfolio Strategist Ingalls & Snyder di New York, Tim Ghriskey, sebagaimana diberitakan Kompas, Kamis (02/07/2026).
Menurut Ghriskey, performa saham Meta selama ini masih tertinggal dibanding kelompok saham teknologi berkapitalisasi besar yang dikenal sebagai Magnificent Seven. Meski demikian, kinerja saham perusahaan tersebut masih berada di zona negatif sejak awal tahun.
Selain mencermati sektor teknologi, investor juga terus memantau perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Perhatian pasar tertuju pada pembicaraan teknis tidak langsung kedua negara di Qatar mengenai Selat Hormuz serta pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance yang menyebut proses negosiasi berjalan dengan baik. Vance juga menegaskan Washington tidak akan kembali melakukan operasi militer secara penuh kecuali jika benar-benar diperlukan.
Sentimen lain datang dari data Institute for Supply Management (ISM) yang menunjukkan aktivitas manufaktur Amerika Serikat melambat pada Juni, meski masih berada pada level yang dinilai cukup solid. Investor kini menunggu laporan ketenagakerjaan bulanan Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis Kamis (03/07/2026) waktu setempat.
Perdagangan pekan ini juga berlangsung lebih hati-hati menjelang libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat (Fourth of July), sehingga bursa saham AS akan ditutup pada Jumat (04/07/2026). Sebelumnya, Wall Street mencatat kinerja kuartalan yang kuat, dengan S&P 500 dan Nasdaq Composite membukukan kenaikan terbesar sejak 2020, sementara DJIA mencatat performa kuartalan terbaik sejak 2022. Di sisi lain, saham Alcoa turut melemah setelah perusahaan tambang asal Australia, South32, menyepakati penjualan sebagian besar aset aluminiumnya kepada Alcoa. []
Redaksi01
