Warning Alarm Keras Degradasi Moral Terjadi di Kabupaten Probolinggo

Habib Mustofa seorang pengamat sosial asal kabupaten Probolinggo yang juga Penasehat DPC MADAS Sedarah Kabupaten Probolinggo. (Foto : Istimewa)

PROBOLINGGO – Bahwa serangkaian peristiwa yang mengiris hati warga Kabupaten Probolinggo terjadi secara beruntun dalam setahun ini. Masih ingat peritiswa pesta minuman keras (miras) di salah satu desa di Kecamatan Krejengan yang menelan dua orang anak meninggal dunia dan sampai hari tidak satupun pelaku atau yang pihak bertanggung jawab diberikan sanksi oleh penegak hukum.

Kejadian kelam lain adanya beredarnya miras ilegal yang hampir terjadi secara masif di Kabupaten Probolinggo tidak serius dan cenderung main-main dalam penertibannya. Disaat ada tim SAE Law Care dan Satpol PP serta TP3MB lebih keras melakukan pencegahan, namun ironis ada dugaan segelintir tokoh yang membekingi dan membuka lagi agen miras di Kraksaan justru ditengarai masih melaksanakan praktek ilegal.

“Bahwa adanya indikasi beking orang kuat ini membuktikan bahwa problem moral atau akhlaq di Kabupaten Probolinggo sulit diberantas,”ungkap Habib Mustofa salah seorang pengamat sosial, Minggu 5 Juli 2026.

Peristiwa selanjutnya menurut Habib Mustofa, maraknya Dept Collector (DC) ilegal di Kabupaten Probolinggo yang hingga saat ini belum tuntas penanganannya dalam penegakan hukum. Jangankan penindakan hukum, bahkan ada seruan moral kepada para pelaku tidak satupun didengar oleh pemangku kebijakan dalam hal ini tokoh agama yang ada di wilayah Kabupaten Probolinggo.

Belum tuntas masalah DC ilegal, rentetan peristiwa selanjutnya adalah acara perpisahan di salah satu Sekolah dasar (SD) di Kecamatan Pakuniran yang menyuguhkan tarian-tarian erotis, menyuguhkan pertunjukan tidak layak serta tidak pantas yang dipertontonkan di lembaga pendidikan yang sejatinya dijunjung tinggi.

Disambung lagi diranah pendidikan yang berbasis agama di salah satu desa Kecamatan Tiris dengan dikemas haflatul imtihan dengan hal yang sama dipertontonkan yang amat tidak pantas.

“Yang terakhir kemarin terjadi peristiwa yang sangat miris seperti ada petir disiang hari adanya pembunuhan seorang wanita dilakukan dua orang laki-laki yang notabene pelakunya masih remaja usia 19 tahun dan 26 tahun.

“Inilah yang saya katakan alarm keras bahwa di Kabupaten Probolinggo terjadi degradasi moral di level yang sangat mengkhawatirkan,”tegas Habib Mustofa yang juga penasehat DPC Madas Sedarah Kabupaten Probolinggo ini.

Menurutnya, serangkaian peritistiwa itu sulit terbantahkan, bahkan hingga detik ini tidak satupun pernyataan yang menyayangkan apalagi mengutuk keras kejadian itu. Ini yang memperparah situasi di Probolinggo bahwa sudah saatnya beberapa pemangku kebijakan baik pemerintah, aparat penegak hukum (APH) atau tokoh masyarakat, MUI atau siapapun harus mengambil langkah-langkah kongkrit.

“Saya berharap mengevaluasi metodologi atau cara dakwah, namun hari ini lebih mengedepankan seremonial formalitas dan sekedar menjadi ajang gugur kewajiban artinya hari ini metodologi di bangku sekolah pendidikan hanya sekedar retorika atau teori belaka yang hanya mengikuti kurikulum belaka, seharusnya ada muatan-muatan moral dan suri tauladan, yang jadi masalah hari ini metodologi dakwah atau pengajaran tidak diimbangi dengan uswatun hasanah dari pemimpin, pemangku kebijakan yang bisa dijadikan figur oleh anak muda kita,”jelasnya.

Lebih jauh Habib Mustofa mengatakan, fenomena sabun batang juga menunjukkan masalah akhlak, etika itu dianggap tidak menjadikan atensi perhatian utama. Mereka hanya retorika kepada pembenaran sepihak, pembenaran dalam arti bahwa yang melakukan itu tidak merasa bersalah, tidak ada yang dilanggar.

Habib Mustofa sangat menyayangkan peritistiwa itu seyogyanya permasalah moral, etika itu merupakan diatas segalanya. Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan degradasi akhlak sudah didepan mata.

“Haruskah menunggu korban-korban yang jauh lebih besar lagi ataukah menunggu korban di lingkungan keluarga kita sendiri,”tegasnya.

Momentum ini kata Habib Mustofa sebaiknya dimanfaatkan semua elemen masyarakat. Dirinya tidak menjustifikasi siapa yang salah atau siapa yang benar. Ada baiknya dijadikan sebagai muhasabah bahwa permasalahan akhklak atau pendidikan sebaiknya dilakukan perubahan ke arah yang lebih konkrit dan lebih bermartabat serta lebih cerdas dalam bentuk metodologi pengajaran yang lebih berakhlakul karimah.

Lebih jauh Habib Mustofa menyatakan, suasana di Probolinggo ini sangat garing bahkan amat jarang sekali adanya event-event yang bermanfaat bagi generasi muda. Masih ingat dahulu ketika akan memasuki bangku sekolah terlebih dahulu wajib mengikuti pelatihan baris berbaris (PBB) yang bertujuan membentuk karakter disiplin, harus ikut kegiatan Pramuka, wajib mengikuti Palang Merah Remaja (PMR) artinya hari ini walaupun bukan itu metodenya, tapi adalah pembentukan karakter. Memang dibeberapa sekolah diajarkan hal itu,  namun yang harus dievaluasi kenapa materi dibangku sekolah atau di Pondok Pesantren itu tidak sesuai dengan perilaku diluar, ini menjadi PR bersama.

Habib Mustofa juga menekankan kepada pemanku kebijakan jika memiliki basis anggaran yang cukup segeralah untuk menyisihkan sebagian anggaran itu untuk kegiatan positif bagi anak muda, misalnya jangan hanya kader PKK atau Posyandu, tapi karang taruna sebaiknya diberi porsi yang cukup sehingga warga tersalurkan kepada hal-hal yang positif.

“Saya menggugah siapapun anda di wilayah Kabupaten Probolinggo, saya tidak menunjuk anda dari lembaga manapun hanya ini dijadikan momentum untuk tidak berpangku tangan terhadap persoalan moral, pendidikan, atau aktivitas kepemudaan yang positif wajib segera dicarikan solusi yang terbaik.(rac)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *