Kredit Perbankan Sulsel Tembus Rp174,6 Triliun, OJK Catat Pertumbuhan Positif
MAKASSAR – Industri perbankan di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat penguatan kinerja hingga April 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit, aset, dan penghimpunan dana masyarakat tetap berada di jalur positif, mencerminkan aktivitas ekonomi daerah yang terus membaik.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Sulawesi Barat (Sulbar), Muchlasin, mengatakan penyaluran kredit perbankan di Sulsel mencapai Rp174,60 triliun hingga April 2026 atau meningkat 5,46 persen secara tahunan (year on year/YoY). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Maret 2026 yang sebesar 5,19 persen, sebagaimana dilansir Bisnis, Senin (06/07/2026).
Penyaluran kredit masih didominasi pembiayaan produktif dengan porsi 52,36 persen dari total kredit. Segmen ini tumbuh 2,64 persen secara YoY. Sementara itu, kredit konsumtif yang menyumbang 47,64 persen dari total pembiayaan mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 8,74 persen.
Berdasarkan sektor ekonomi, pembiayaan produktif terbesar masih mengalir ke sektor perdagangan besar dan eceran dengan kontribusi mencapai 21,86 persen terhadap total kredit perbankan di Sulsel.
“Sejalan dengan ekspansi kredit, total aset perbankan di Sulsel pada posisi April 2026 melonjak 5,29% (YoY) menjadi Rp215,79 triliun. Laju pertumbuhan ini menunjukkan akselerasi apabila disandingkan dengan performa Maret 2026 yang kala itu bertumbuh di level 4,12% (YoY),” ucap Muchlasin di Makassar, Senin (06/07/2026).
Selain pertumbuhan kredit dan aset, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga meningkat. Hingga April 2026, DPK mencapai Rp149,46 triliun atau tumbuh 7,23 persen secara YoY. Meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Maret 2026 sebesar 7,33 persen, laju pertumbuhan DPK masih melampaui pertumbuhan kredit dan aset secara kumulatif selama empat bulan pertama tahun ini.
Komposisi DPK masih didominasi produk tabungan dengan pangsa 60,72 persen. Selanjutnya, deposito berkontribusi 22,79 persen, sedangkan giro menyumbang 16,50 persen.
Menurut Muchlasin, tingginya penghimpunan dana menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan tetap terjaga. Kondisi tersebut juga tercermin dari rasio pinjaman terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 116,82 persen.
Di sisi lain, kualitas pembiayaan dinilai tetap terkendali. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 3,74 persen, sehingga fungsi intermediasi perbankan dinilai tetap berjalan dengan baik tanpa mengabaikan aspek kehati-hatian.
“Kondisi tersebut menegaskan bahwa industri perbankan di Sulsel tidak hanya sekadar mampu mengakselerasi ekspansi pembiayaan guna menopang roda perekonomian daerah, tetapi juga tetap konsisten mengedepankan prinsip kehati-hatian serta implementasi mitigasi risiko yang memadai,” tutur Muchlasin. []
Redaksi01
